Selayang Pandang Jaman Dulu

Penulis : Harryyanto Ishaq Aghasi

Apa itu KM ITB?

KM ITB atau Keluarga Mahasiswa Institut Teknologi Bandung merupakan organisasi terpusat ITB yang terdiri dari seluruh mahasiswa S1 (program sarjana) yang terdaftar secara resmi di ITB dan anggota kehormatan yang disahkan oleh Kongres KM ITB. KM ITB disahkan kembali pada tanggal 19 Januari 1996. KM ITB berasaskan Pancasila dan kebenaran ilmiah dan memiliki tujuh sifat antara lain (1) mandiri, (2) kekeluargaan, (3) adil, (4) aspiratif dan partisipatif, (5) representatif, (6) efektif dan efesien, (7) transparan. Ada pun tujuan KM ITB yaitu (1) Ikut serta mengusahakan tujuan pendidikan untuk membentuk sarjana yang berbudi pekerti, cakap, mandiri, berwawasan luas, demokratis, dan bertanggung jawab, (2) Memberikan dorongan kepada mahasiswa untuk menjadi pemimpin dan penggerak dalam kehidupan berbangsa, (3) Ikut serta menyumbangkan karya dan pikiran dalam penataan kehidupan bangsa, (4) Memupuk dan membina rasa persaudaraan dan kekeluargaan di lingkungan civitas academica, (5) Mengusahakan kesejahteraan material dan spiritual serta memperjuangkan kepentingan mahasiswa di lingkungan kampus. Basis KM ITB adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan atau biasa disebut HMJ [3]. Narasi barusan mungkin telah didengar oleh pembaca saat menjadi peserta kaderisasi awal terpusat ITB.

 

The Last Stronghold!

Tanggal 4 Agustus 2018 merupakan satu hari bersejarah bagi semua anggota KM ITB. Mengapa iya? Pasalnya di hari itu ratusan orang memenuhi lapang laboratorium struktur tanah (Lab Mektan) untuk menghadiri, menyaksikan, dan mengambil pelajaran dari sebuah forum terbesar yang pernah dihadiri penulis. FORBAS (forum bebas) namanya. Namun pada tulisan ini saya tidak akan membahas detail keberjalanan forbas. Izinkan saya memulai tulisan ini dengan pertanyaan “Mengapa organisasi kemahasiswaan harus bebas dari pengaruh politik praktis?” Pertanyaan ini termotivasi dari salah satu tuntutan HMJ yang meminta Presiden KM ITB untuk menyatakan bahwa dirinya tidak di bawah pengaruh politik praktis atau semacam pengaruh partai partai politik. Menurut KBBI V, terdapat tiga pengertian mengenai politik. Pertama, politik merupakan (pengetahuan) mengenai ketatanegaraan atau kenegaraan (seperti tentang sistem pemerintahan, dasar pemerintahan). Kedua, politik merupakan segala urusan dan tindakan (kebijaksanaan, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan negara atau terhadap negara lain. Terakhir, politik merupakan cara bertindak (dalam menghadapi atau menangani suatu masalah)[1]. Lalu mengapa organisasi kemahasiswaan sangat perlu merdeka dari pengaruh partai politik? Mahasiswa merupakan salah satu elemen di masyarakat yang memiliki peranan penting. Mahasiswa adalah masyarakat terdidik yang menjadi ujung tombak suara masyarakat. Mahasiswa merupakan mitra kritis bagi pemerintah. Idealisme adalah kemewahan mahasiswa. Berdasarkan pandangan di atas mengenai mahasiswa, teman-teman pembaca sudah memiliki bayangan akan pentingnya kenetralan mahasiswa. Bisa dibayangkan jika ujung suara masyarakat, pembela hak masyarakat, dan mitra kritis pemerintah ditunggangi oleh partai tertentu. Tentu, hal ini dapat merusak semangat yang terkandung dalam dasar negara kita, Pancasila.

Lalu bagaimana hubungannya narasi di atas dengan kemahasiswaan ITB jaman dulu? Jika kita putar balik dan melihat kondisi kemahasiswaan ITB pada masa orde lama (1965-1966) maka akan kita temui istilah DEMA (Dewan Mahasiswa) ITB yang merupakan badan eksekutif dan MPM (Majelis Permusyawaratan Mahasiswa) ITB yang merupakan badan legislatif. Pada Pemilu RI tahun 1957, partai kontestan Pemilu berusaha mendapatkan dukungan sebanyak mungkin hingga melebarkan sayapnya ke kampus-kampus. Berbagai organ underbow partai politik berusaha untuk menguasai lembaga eksekutif mahasiswa. Usaha tersebut cukup berhasil lantaran organ tersebut berhasil menguasai suatu perhimpunan lembaga-lembaga antarkampus. Namun hal tersebut tidak terjadi dengan DEMA ITB sehingga DEMA ITB dikenal dengan sebutan “The last stronghold[2]. Maka dari itu, adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi kita mahasiswa ITB netral dari pengaruh partai politk.

 

Kemahasiswaan ITB di Tahun 1978

Pada tahun 1977, Soeharto ingin tetap berkuasa melalui pencalonannya di tahun tersebut. Kejadian ini menimbulkan banyak protes di kalangan masyarakat dan intelektual yang menolak pencalonan Soeharto sebagai calon presiden RI untuk yang ketiga kalinya meskipun hal ini tidak diatur dalam UUD 1945 saat itu. Penolakan ini merupakan imbas dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap Soeharto untuk membawa pembangunan Indonesia ketiga kalinya.

Pada saat itu, terdapat suatu gerakan yang dinamakan GAK (gerakan anti kebodohan) yang merupakan perwujudan kekecewaan DEMA ITB terhadap parpol kontestan pemilu yang banyak melakukan pembodohan kepada masyarakat. Pembodohan tersebut berupa jargon-jargon pembangunan dan berbagai janji yang muluk dan sangat berlebihan. DEMA ITB bersama dengan DM/SM se-Bandung banyak melakukan kajian mengenai hal itu lalu hasilnya didiskusikan dengan pimpinan parpol PPP, PDI, GOLKAR serta menteri di Jakarta.

Di sisi lain, GAK juga aktif memberikan masukan terhadap bidang ekonomi, politik, hukum, dan ketimpangan sistem pendidikan nasional. Hal ini disampaikan melalui diskusi-diskusi atau seminar lalu menghasilkan pemikiran-pemikiran konstruktif untuk dijalankan oleh pemerintah. Bisa dibayangkan bahwa dampak dan kontribusi yang dilakukan dari aksi DEMA ITB kepada Indonesia saat itu. Lalu bagaimana dengan saat ini?

Selanjutnya DEMA ITB bersama DM/SM se-Bandung menggugat teori Trickle Down Effect yang digunakan pemerintah saat itu untuk mengangkat perekonomian masyarakat kecil. Kenyataannya, kebijakan tersebut tidak sesuai dengan yang diceritakan karena tidak membawa perbaikan bagi masyarakat kecil yang kelaparan yang tidak mendapat ‘’kue’’ pembangunan tersebut. Hal ini membuat mahasiswa melakukan penyikapan berupa tuntutan pengubahan kebijakan ekonomi dari pemerintah. Masih kelanjutan dari kasus tersebut, aksi-aksi mahasiswa menjadi semakin masif pada sepanjang Desember 1977. Tidak hanya bidang ekonomi yang dikritik oleh mahasiswa, bidang-bidang lain seperti HAM, politik, hukum dan pendidikan pun menjadi sasaran kritik mahasiswa. Hal ini dianggap membahayakan kewibawaan pemerintah yang akhirnya membuat pemerintah menggunakan ABRI untuk mengambil tindakan keras terhadap pengancaman “kepemimpinan nasional”. Tentu hal ini menimbulkan luka yang dalam di hati mahasiswa dan terkenang sampai sekarang.

Tulisan ini memang terkesan tidak terlalu runtut dan ajeg. Namun, tujuan utama dari tulisan ini adalah saya menghimbau teman-teman sekalian agar kita tidak menyepelekan sejarah kita. Selain itu, saya juga menghimbau agar gerakan-gerakan kemahasiswaan kita tidak dimanfaatkan untuk kepentingan golongan politik tertentu agar gerakan-gerakan kemahasiswaan kita benar-benar dapat memperjuangkan suara masyarakat Indonesia.

 

Referensi

[1]       Kamus Besar Bahasa Indonesia V.

[2]       Ginting, M. Kurniawan. Analisis Historis Kemahasiswaan ITB (Kutipan Sejarah Kemahasiswaan ITB sejak tahun 1920-an hingga 200). Komunitas Ganesha 10 ITB.

[3]        Konsepsi Organisasi Kemahasiswaan Keluarga Mahasiswa ITB Amendemen 2015.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *