Public Relation Student Forum : Belajar Memecahkan Masalah dari Perspektif Lain

Penulis : Sagita Sukma Kristiana (11216011)

Public Relation Student Forum, namanya mungkin asing terdengar, suatu kegiatan yang tidak umum diikuti mahasiswa yang memiliki basis pendidikan teknik seperti di Rekayasa Hayati, bukan? Sesuai namanya, Public Relation Student Forum (PRSF) merupakan kegiatan yang dilaksanakan untuk mencari solusi dari permasalahan di masyarakat berdasarkan perspektif public relation, bidang yang bisa dikatakan sangat berbeda dari keilmuan yang didalami saat ini. Kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk berintegrasi dengan pemerintah dan lembaga-lembaga terkait untuk menyelesaikan masalah sosial yang ada di masyarakat. Pada tahun ini, tema yang diangkat adalah Eradicating Accessibility Discrimination Towards the Disabled, tema yang cukup menarik namun jarang dibahas pada perkuliahan. Mungkin muncul pertanyaan, lantas mengapa mengikuti kegiatan jika tahu bidang yang digeluti tidak berhubungan? Awalnya ketertarikan terhadap tema menjadi alasan untuk tetap mengikuti kompetisi tersebut. Selain itu, merasa cukup jenuh berkutat dengan keilmuan di kelas dan ingin mencari hal yang berbeda di luar. Pada prosesnya memang sulit, terlebih untuk mendalami keprofesian yang berbeda dalam waktu yang singkat. Namun pengalaman yang didapat dari acara tersebut dapat membayar kerja keras sepanjang proses.

Pada hari pertama (13/11), peserta mengikuti talkshow terkait inklusivitas penyandang disabilitas dan permasalahan yang dihadapi. Acara ini cukup membuka wawasan bahwa permasalahan sosial ini ada, dan masih banyak orang yang belum cukup aware akan hal tersebut. Pembicara talkshow pun cukup beragam, mulai dari pihak pemerintah, perusahaan swasta, hingga duta penyandang disabilitas untuk PBB. Banyak hal yang dipelajari, mulai dari tata cara berkomunikasi dengan penyandang disabilitas, diskusi terkait undang-undang yang penerapannya belum maksimal, mengenal strategi public relation dalam mengatasi permasalahan, dan masih banyak hal menarik dan membuka wawasan lainnya. Acara ini juga dilengkapi dengan pameran dan penampilan dari komunitas penyandang disabilitas. Sekali lagi, kegiatan tersebut membuka pemikiran bahwa mereka yang dianggap ‘remeh’ karena ‘berbeda’ ternyata dapat melakukan hal-hal seperti masyarakat pada umumnya. Mereka menunjukkan bahwa penyandang disabilitas juga bagian dari masyarakat, yang dapat berkontribusi untuk pembangunan, yang memiliki hak akan fasilitas, yang tidak dapat dilupakan, dan bahwa mereka lebih dari sekedar disabilitasnya.

Hari kedua dan ketiga merupakan hari student forum, kegiatan ini dirancang seperti Model United Nations dan dilangsungkan full dalam bahasa Inggris. Pada sesi formal, peserta diberi suatu topik untuk kemudian dibahas sesuai pandangan public relation terhadap topik tersebut. Di sesi ini, kemampuan public speaking peserta diuji, kami harus mengemukakan ide dengan persuasif karena selain mengemukakan hasil analisis, kami juga ‘menjual’ ide kami terhadap stakeholders. Selain mengemukakan ide dalam speech, kami juga dituntut untuk membuat draft of resolution yang merangkum gagasan untuk penyelesaian masalah yang akan diberikan pada pemerintah atau instansi yang bersangkutan. Pada pembuatannya, diperlukan skill lobbying untuk membentuk tim dan meyakinkan tim lain bahwa gagasan yang dibuat merupakan solusi terbaik. Selain skill lobbying, peserta juga dituntut untuk mengajukan solusi yang kreatif dan sesuai dengan analisis kondisi sehingga perlu dasar pemahaman kasus yang cukup baik. Sayangnya, penyelesaian masalah dalam hal ini hanya diajukan dalam bentuk ide tertulis dan kurang ada tindak lanjut.

Keilmuan dan keprofesian yang diterapkan dalam kegiatan ini memang berbeda, namun pengalaman yang didapat tentu dapat diaplikasikan dalam perkuliahan maupun dunia kerja nantinya. Misalnya, softskill berupa public speaking dan bisa berani berkomunikasi dalam bahasa Inggris, kemampuan analisis masalah secara mendalam, lobbying, dan lain-lain. Pengalaman ini pun membuka mata saya terhadap permasalahan sosial yang ada di masyarakat, khususnya terkait penyandang disabilitas. Selain itu, poin lain yang didapat dari kegiatan ini menurut saya pribadi mungkin kita sering membicarakan SDG, dan berfokus pada poin-poin SDG yang terkait dengan permasalahan lingkungan. Namun, untuk mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan terdapat permasalahan sosial yang perlu diselesaikan dan kita tidak bisa hanya diam dengan anggapan masalah tersebut bukan merupakan bidang yang kita dalami. Inklusivitas terhadap disabilitas merupakan salah satu poin yang ingin diwujudkan, mari kita lihat sekitar kita, apakah kita sudah peduli terhadap teman-teman kita yang kurang beruntung? Atau kita malah menjadi pelaku diskriminasi terhadap penyandang disabilitas? Apakah lingkungan kita sudah memiliki akses untuk penyandang disabilitas? Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu mereka? Akhir kata, mari kita bersama-sama mewujudkan masyarakat yang inklusif, dimulai dari diri sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *