Kerja Praktek di Negeri Orang dan Suka Duka di Baliknya

Penulis : Juang Arwafa Cita (11215017)

Kumandang adzan maghrib baru saja melepas ke angkasa. Langit mulai menggelap seiring mentari yang kembali terlelap. Rintik hujan mulai mengguyur bumi negeri melayu. Namun tetap saja, dinginnya angin pukul delapan tidak sanggup mengalahkan perkasanya panas udara Kuala Lumpur. Ditemani secangkir kopi hangat dan dua bungkus Indomie yang terlalu asin, aku pun mengingat-ngingat kembali, apa yang sudah kami alami selama ini.

Ketika muncul notifikasi email di telepon seluler pada akhir Februari 2018, aku sudah berfirasat bahwa apa yang tertera di dalam surat itu adalah apa yang sudah kami idamkan selama tiga bulan terakhir ini. Bahkan ketika membaca tiga kata pertama di paragraf pertama surat itu; “We are pleased …” rasa bahagia sudah berubah wujud menjadi lompatan kegirangan.  Hari itu, aku, Duma, dan Dini secara resmi menjadi intern di sebuah perusahaan berbasis mikroalga terkemuka di negeri jiran Malaysia.

Gambar 1. Minggu pertama di Kuala Lumpur adalah saat-saat yang paling menyenangkan (kiri-kanan : Juang – Dini – Duma)

 

Pada tanggal 2 Juli, kami pun tiba di Kuala Lumpur. Ujian pertama kami bahkan sudah muncul saat kami menginjakan kaki di negeri serumpun ini. Kami berencana tinggal di Malaysia selama 45 hari karena kerja praktek kami berlangsung selama 5 minggu. Akan tetapi, kebijakan visa Malaysia-Indonesia hanya memperbolehkan kami berada di tanah Malaysia selama 30 hari saja. Apabila kami menyampaikan kepada petugas imigrasi bahwa kami akan tinggal lebih dari 30 hari, sudah pasti kami akan ditahan dan sulit untuk memasuki Malaysia. Jawaban kami atas ujian itu adalah visa running, sebuah mekanisme untuk memperpanjang izin tinggal di suatu negara dengan keluar dari negara tersebut selama beberapa jam dan masuk kembali ke negara itu untuk mendapatkan izin tinggal yang baru. Singapura pun menjadi negara tujuan visa running kami dan kami sudah mempersiapkan tiket bus ke Singapura sebelum hari ke-30 kami di Malaysia. Jadilah tiket ajaib seharga dua ratus ribu rupiah itu menjadi penolong kami untuk masuk ke Malaysia. Tiket itulah yang membuktikan bahwa kami tidak akan tinggal lebih lama dari 30 hari di Malaysia. Berdialektika dengan petugas imigrasi yang penuh rasa curiga, serta melintasi perbatasan internasional dua kali dalam waktu kurang dari 24 jam tentu merupakan pengalaman yang akan sangat sulit dilupakan.

Satu minggu pertama kami di negeri ini adalah saat-saat paling bahagia. Sepertihalnya turis yang berwisata, kami berkeliling tempat-tempat menarik di Kuala Lumpur. Kami tidak mengetahui hal tak terduga yang menunggu kami di perusahaan yang akan kami datangi minggu depan.

Hari pertama kami melaksanakan kerja praktek, kami telah dihadapkan dengan suatu permasalahan yang pelik. Perusahaan ternyata sedang tidak dalam performa terbaiknya. Kultivasi dan produksi mikroalga telah berhenti total. Padahal, alasan utama kami datang jauh-jauh ke tempat ini adalah untuk belajar tentang segala hal yang berkaitan dengan mikroalga karena kebetulan kami mendapatkan topik tugas akhir yang tak jauh-jauh dari mikroalga. Tak sampai disitu, perusahaan ternyata saat ini hanya sedang menjalankan proyek tentang pengolahan kelapa sawit dalam skala pilot plan. Ya! Pengolahan kelapa sawit dalam skala pilot plan! Bahkan perusahaan-perusahaan di Indonesia saja sudah berkali-kali lipat lebih maju dalam pengolahan kelapa sawit dibandingkan perusahaan ini. Bahkan pada hari pertama pun, ekspektasi kami telah dijatuhkan dan mulai terbesit adanya kesia-siaan di dalam semua hal ini.

Namun apa mau dikata, dibalik kesulitan pasti ada kemudahan. Selama minggu awal kami melakukan kerja praktek, kami berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa lain yang melakukan internship disana. Mereka adalah satu-satunya hal baik, jika tidak yang terbaik, yang kami dapatkan selama melaksanakan kerja praktek di perusahaan itu. Mereka pun sama-sama merasakan kekecewaan dan kesusahan yang sama, dan itulah yang membuat kami sangat dekat satu sama lain. Mereka (dan juga makanan di kantin) adalah hal yang membuat aku mau kembali ke perusahaan setiap harinya.

Gambar 2. Didalam kesulitan pasti ada kemudahan

 

Sedikit demi sedikit, rasa kekecewaan akhirnya memudar. Aku pribadi akhirnya semakin tertarik dengan proyek kelapa sawit yang dikerjakan oleh perusahaan. Hampir 90% pekerjaan produksi dikerjakan oleh mahasiswa-mahasiswa yang menjalankan kerja praktek, sehingga kami semakin mudah mengerti tentang proses-proses dalam produksi minyak kelapa sawit murni. Selain produksi minyak kelapa sawit, supervisor kami juga memberikan tugas paper work berupa studi pustaka mengenai produk kelapa sawit serta potensi-potensi industri berbasis hayati lainnya. Supervisor pun sangat menghargai aku, Duma, dan Dini karena latar belakang keilmuan Rekayasa Hayati dan berasal dari Indonesia, mengingat kecocokan keilmuan kami dengan apa yang sedang perusahaan kerjakan dan superioritas Indonesia dalam industri berbasis kelapa sawit. Bahkan pada awal masa kerja praktek, kami dipercaya untuk menjalankan proyek optimasi produksi minyak kelapa sawit dan menentukan parameter operasi di unit-unit operasi, meski pada akhirnya proyek itu harus terhenti karena tidak adanya dukungan fasilitas sarana dan prasarana. Suasana kerja yang nyaman, bidang kerja yang sesuai dengan bidang studi, dan teman-teman seperjuangan yang bersahabat adalah tiga hal utama yang membuat kami dapat membangun keinginan untuk bertahan hingga setidaknya masa kerja praktek ini usai.

Gambar 3. Minya sawit murni

Pada akhirnya, kami pun tidak dapat memenuhi tujuan awal yang ditargetkan saat memilih perusahaan ini sebagai tempat menghabiskan satu setengah bulan hidup kami. Akan tetapi, kami mendapatkan hal-hal yang tidak pernah kami perhatikan dan harapkan sebelumnya. Teman-teman baik yang sangat ramah (beserta akun instagramnya), koneksi dan untaian tali silaturahmi berbasis keserumpunan dan persaudaraan, kebanggaan atas dari mana kita berasal, kemampuan beradaptasi dan pengalaman bekerja dalam suasana multikultur, pemahaman akan tantangan yang dihadapi bioindustri di dunia, serta pelajaran-pelajaran hidup lainnya yang mungkin tak akan kami dapatkan jika tidak terjebak di perusahaan ini.

Apabila kita mengacu pada luaran mata kuliah BE 3090 Kerja Praktek, yaitu mahasiswa mampu mengintegrasikan ilmu yang diperoleh selama kuliah untuk digunakan dalam bekerja di instansi yang dipilih, beradaptasi di tempat kerja, berinovasi untuk menyelesaikan masalah di tempat kerja, dan mengasah softskill, maka dapat disimpulkan bahwa apa yang telah kami alami selama ini sangatlah jauh dari gambaran kesia-siaan.

Tak terasa aku sudah menegukkan tetesan kopiku yang terakhir. Indomie di atas piring pun sudah bersih tak bersisa. Aku beranjak dari kursi dan bersiap untuk sembahyang. Tak lupa ku ingat-ingat untuk berdoa bagi kelancaran dan keberkahan di esok hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *