Dari Kebun ke Kafe

Penulis : Rian Fiqraini BE’16
Editor : Naomi Silaban

Fajar menyingsing menerpa bangunan-bangunan kokoh. Hari yang kami nantikan sudah datang. Bersiap-siap untuk melakukan kegiatan yang sangat berharga kali ini. Hari ini kami akan mencari ilmu, kesenangan dan tambahan cuplikan kisah inspiratif “dari Kebun ke Kafe”. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Kelompok Keahlian Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerjasama dengan community based startup ‘Biorefinery Society’ (BIOS) serta bagian program Bina Desa yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati (HMRH) terhadap masyarakat Kampung Cibeusi, yang juga hadir pada kegiatan ini. Ya, ini baru sedikit cuplikan dari perjalanan panjang yang seharusnya terjadi di tempat itu. Tempat itu adalah Perkebunan Kopi Arjuna, Cibodas, Lembang .

Perjalanan pun dimulai…

Meeting point sebelum keberangkatan yang telah disepakati,  selasar Asrama ITB Jatinangor. Kami menunggu teman-teman yang belum datang, ada  yang sarapan, ada yang mengobrol dan juga aktivitas kecil lainnya. Ada 2 bus yang digunakan untuk perjalanan ini, satu bus merayap di asrama, satunya lagi bus untuk warga Cibeusi. Sayang, dari bus yang menjemput kami di asrama kekurangan satu anggota, karena sakit.

Perjalanan menuju tempat destinasi lumayan jauh. Sehingga bosan menyerang warga bus yang antusias. Banyak hal yang dilakukan setiap orang untuk melawan rasa bosan. Mulai dari tidur, bercerita tentang perkuliahan, praktikum, KP dan hal-hal receh sebagai bumbunya.

Sampai di destinasi..

Akhirnya, kami sampai di Cibodas. Namun, tidak ada tanda-tanda yang meyakinkan bahwa ini tempat yang tepat. Kami tidak meilhat adanya workshop dan alat logistik yang menandakan akan berlangsungnya seminar “dari Kebun ke Kafe”.

Ternyata, kami belum sampai. Sedikit kecewa, namun berangsur membaik saat kami mulai turun dan menghirup udara segar, ada bebrapa dari kami yang bermain-main di bawah pohon kersen/ceri. Kami menunggu kepastian apakah kami akan berjalan kaki ke tempat yang sebenarnya atau malah tetap menggunakan bus ini. Sedikit info yang kami tahu, bahwa tempat itu sangat sulit untuk dilewati oleh bus kami, karena jalan yang terjal yang belum diaspal.

Setelah menunggu beberapa menit, kami menuju destinasi dengan bus yang awalnya kami tumpangi. Tetapi hanya setengah perjalanannya saja. Sehingga kami harus menunggu di sebuah rumah yang memiliki ternak domba dan kebun palawija yang luas. Sambil menunggu mobil yang akan membawa kami secara bergantian. Kami melihat-lihat sekitar dan menikmati pemandangan hijau yang terhampar setengah dari tinggi kami.

Sesampainya di tempat tujuan. Kami langsung bergegas ke meja registrasi dan masuk ke ruang seminar. Ruang seminarnya bukan dari bangunan tembok dan batu bata. Namun, ruangan yang berasal dari screen house yang didekor secara indah dan elegan.

Pada seminar “dari Kebun ke Kafe” dimoderatori oleh kak Firman dari Rekayasa Hayati 2013 yang mengambil program studi S2 secara fast track ke jurusan Bioteknologi. Setelah moderator membuka seminar, dilanjutkan dengan kata sambutan dari Pak Yusuf selaku Ketua Program Studi Rekayasa Hayati. Kemudian, seminar dilanjutkan dengan  Pak Dr. Robert Manurung, Pak Dr. M. Yusuf Abduh dan Ibu Dr. Rijanti Rahaju Maulani sebagai pembicara. Hasil dari seminar ini, kami dapat mengetahui bagaimana caranya pengintegrasian antara semua kegiatan dalam industri kopi dengan pendekatan yang lebih simple namun konsep biorefinery dapat diterapkan.

Setelah sesi seminar berakhir, sesi berikutnya adalah workshop. Pada saat workshop ada empat tempat yang akan dikunjungi. Tempat pertama merupakan pos barista, tempat kedua merupakan pos propolis, tempat ketiga merupakan pos cascara dan tempat terakhir merupakan pos rangkaian sarang lebah dengan sensor. Agar setiap pos berjalan lancar, maka panitia telah membagi kami semua yang ada di sana menjadi empat kelompok kecil yang siap berkeliling dari satu pos ke pos yang lain. Ada kelompok merah, hijau, biru dan kuning. Namun, ternyata keberlangsungan pembagian kelompok ini tidak sesuai dengan rencana awal. Ada beberapa orang dari salah satu kelompok yang tidak ke pos barista karena sudah paham dengan barista dan satu pos juga dijadikan titik kumpul semua orang pada saat diakhir. Namun, kedinamisan lapangan ini, langsung ditangani oleh panitia dengan strategi lain agar semua pengunjung dapat menikmati setiap pos.

Pada pos barista, kami diajarkan bagaimana cara menyeduh kopi yang baik. Mulai dari pengekstrakan sampai penyaringan dengan air suhu tertentu. Pos selanjutnya yaitu pos rangkaian sarang lebah dengan sensor. Di sini, kita mengetahui bagaimana suatu aplikasi sensor digunakan dalam prodi kami, rekayasa hayati. Pada rangkaian ini menggunakan sumber listrik dari sel surya. Ini dikarenakan di kebun kopi sulit menemukan sumber listrik. Sel surya sebagai sumber listrik utama dalam mengaktifkan sensor-sensor yang digunakan. Sarang lebah dibuat beberapa kotak. Satu kotak terdapat sekat untuk pemisah ruangan antara perkembangbiakan dan ruangan produksi madu. Di dalam kotak juga terdapat jaring-jaring yang digunakan untuk memperoleh madu. Untuk informasi saja, ternyata madu dan propolis yang dihasilkan dari lebah yang menghisap nektar bunga kopi menghasilkan kualitas yang bagus. Beberapa aplikasi digunakan dalam rangkaian ini, salah satunya, aplikasi berupa VNC pada smartphone digunakan sebagai pemantauan dan pengambilan data jarak jauh.

Pos ketiga yaitu pos cascara. Do you know “cascara”? yap, sesuai dengan sebutan di paragraf sebelumnya. Cascara adalah kulit kopi yang dikeringkan. Ternyata cascara ini memiliki antioksidan yang tinggi. Cascara dapat dikonsumsi dengan cara diseduh seperti teh pada biasanya. Aroma dan rasanya tidak jauh dari kopi lho. Namun, berbagai pengeringan dapat merubah warna dan aroma yang diperoleh. Di pos ini, kami dapat mencicipi teh cascara yang unik. Akhirnya dipenghujung kegiatan kami dikumpulkan secara bersama-sama di pos terakhir. Di pos ini, kami membuat sabun dengan tambahan ampas propolis. Wah, ternyata ampas propolis juga berguna yaa. Hampir sama dengan membuat sabun seperti biasanya, namun penambahan ampas propolis dapat menambah manfaat pada sabun yang dibuat. Propolis dapat memberi nutrisi pada kulit sehingga kulit menjadi sehat dan tidak kering.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *