Celup Ikat

Penulis : Monica Viola BE’15
Editor : Naomi Silaban BE’15

“Siapa yang sangka dengan ikatan ngasal menjadikan pola yang sejauh mata memandang, itu indah

Sabtu pagi tanggal 13 Oktober 2018, kegiatan celup ikat ini dilaksanakan. Acara kolaborasi antara HMRH ITB dengan TERIKAT ITB berlangsung diruangan yang yaah.. luas dan dingin tentunya karena duduk tak beralas sesuatu. Tapi tak masalah, karena para peserta langsung dihangatkan dengan materi ekstraksi cair, seperti pelarut organik, pewarna alami, cara ekstraksi bahan alam dan sebagainya. Pemaparan cara mengekstraksi bahan alam disampaikan oleh Duma Doniagara selaku Kadiv Keprofesian HMRH ITB. Materi matakuliah Metabolisme dan analisis bahan alam (MABA) menjadi sebagian besar isi materi sesi pertama. Thanks to Ibu Erly, karena materi yang ada cukup singkat dan jelas untuk disadur dan disampaikan kepada teman-teman TERIKAT ITB.

Gambar 1. Peserta Celup Ikat

Tapi sebenarnya bagaimana cara yang baik untuk mengambil warna (ekstraksi) dari suatu tanaman, atau apakah pewarna alami itu dan bagaimana cara pengaplikasiannya. Tentu hal yang mudah bagi sebagian besar mahasiswa Bioengineering, mengerti cara ekstraksi dan jenis tanaman yang digunakan. Namun, apakah cukup sampai menjadi pewarna saja? Sebaliknya, sebagian besar mahasiswa Kriya ITB bagian tekstil tentu tau cara membuat suatu karya indah. Salah satunya mewarnai diatas kain. Lalu, kenapa tidak digabungkan saja kedua jurusan ini untuk sekedar bertegur sapa, berkreasi, atau mungkin berbagi ilmu. Setelah perwakilan antar himpunan cukup intens bertemu untuk membahas kegiatan ini, berlangsunglah acara tersebut. Pembukaan dilakukan oleh dua MC, yaitu Audy (TERIKAT ITB) dan Monica (HMRH ITB). Tak disangka, pada acara workshop ini kami kedatangan Koordinator ITB Cirebon, Bapak Hadwi Soendjojo, yang memberi kata sambutan. Pasalnya kami memang tidak memplotkan beliau hadir, hanya saja beliau sungguh senang melihat adanya kegiatan kolaborasi mahasiswa di Kampus ITB Jatinangor yang lumayan ‘sepi’ ini. Kemudian, kata sambutan dari masing-masing perwakilan, Adira mewakili TERIKAT ITB dan Farid selaku Kahim HMRH ITB. Sesi materi selanjutnya dilaksanakan Kadiv Keprofesian HMRH, Duma, yang menjelaskan materi ekstraksi bahan alam dan Rifan dari TERIKAT ITB yang menjelaskan materi celup ikat.

 

 

Gambar 2. Kata sambutan oleh masing-masing perwakilan
Atas-bawah : Pak Hadwi, Adira dan Farid

 

Dari rangkuman yang saya dapat, ektraksi itu sebenarnya adalah proses menarik suatu senyawa dari satu fase ke fase lainnya (cair-cair atau padat-cair). Kelarutan senyawa yang mau diambil terhadap pelarutnya juga penting, maka dari itu terdapat studi literatur yang wajib dilakukan ketika hendak melakukan ekstraksi. Sebagai contoh pewarna alami dari tanaman ketapang (Terminalia catappa) yang hanya memerlukan air panas untuk melarutkan zat warna dari daun segar tersebut. Waktu perebusan dilangsungkan sekitar beberapa jam hingga warna daun menjadi layu coklat pucat. Sedangkan materi celup ikat yang saya dapat cukup singkat, yaitu berfokus pada penghambatan warna akibat ikatan yang telah kita buat. Jadi, ketika melakukan pewarnaan dengan dicelup-celup, ikatan yang kuat akan menahan warna kain asli, sedangkan sisanya mengikuti warna dari pewarna. Penggunaan karet untuk mengikat akan menghasilkan pola lingkaran abstrak, sedangkan penggunaan sumpit untuk menahan warna akan menghasilkan pola simetris dan panjang-panjang.

 

Gambar 3. Pemaparan Materi oleh Kadiv Keprofesian HMRH (Duma)

 

Sesi praktik celup ikat pun dilaksanakan. Semua yang hadir mendapatkan kain gratis untuk langsung berkreasi. Tidak sampai 5 menit mengikat sudah ada yang mencoba mencelupka kainnya. Kisaran waktu mengikat memang tergantung kesukaran pola yang diinginkan ada yang bisa sampai 30 menit. Pewarnaan kali ini menggunakan dua pewarna saja, biru keunguan dari tanaman Indigofera dan hitam dari tanaman ketapang. Waktu pewarnaan berkisar 2-30 menit. Perbedaan warna yang muncul juga bervariasi ada yang pekat tapi banyak pula yang pucat. Pewarnaan yang dicelup-celup atau direndam agak lama menjadi hal yang perlu dikaji lagi sepertinya. Pewarna alami memang jarang digunakan kalau dibaju sehari-hari, kalau ada pun pasti mahal karena waktu dan proses yang rumit. Pantas saja di industri mengunakan pewarna kimia tekstil waktu perendaman yang tidak memakan waktu yang banyak dan hasil warna pekat pun didapatkan. Tapi balik lagi, masing-masing pewarna mempunyai kelebihan dan kekurangan salah satunya dampak ke lingkungan yang bisa ditimbulkan.

 

Gambar 4. Proses Celup-Ikat

 

Sekedar informasi tambahan, saya ketika sedang kerja praktik di Bali menemukan industri garment menggunakan pewarna alami didaerah Gianyar, CV. Tarum Bali ( instagram.com/tarumbali ) namanya. Ditemani oleh Bli Indra, Saya dan teman kerja praktek saya (Naomi) berkeliling langsung diarea pabrik mulai dari melihat reaktor kapasitas puluhan liter, shelter penjemuran, sentrifuga untuk pengeringan otomatis, ruangan penenuan dan studio kain. Di Tarum Bali juga sudah menerapkan zero waste seperti pengolahan limbah cair dengan system fitoremediasi menggunakan eceng gondok dan pembuatan kompos dari limbah padat daun. Beliau juga menjelaskan bahwa kebanyakan hasil produksi diekspor dibandingkan dengan penjualan didalam negeri. Alasannya sederhana yaitu karena budaya di Indonesia untuk eco-environmental dan daya saing harga pewarna kimia tekstil masih jauh berbeda di negara maju sana. Tak lupa sebagai mahasiswa kami menanyakan apakah boleh meminta sedikit pewarna alami yang diproduksi oleh Tarum Bali. Dengan respon yang hangat, Bli Indra memberikan pewarna indigofera dan ketapang untuk kami gunakan dikegiatan kami. Terimakasih Bli!

 

Gambar 5. Atas-Bawah : Bli Indra, Bingkisan pewarna,  Situasi CV.Tarum Bali

 

Akhir kata, acara pun selesai dan dilakukan pemilihan 3 hasil kain dengan pola terbaik oleh dewan juri, yaitu Serafina (11215021), Nadzifa (11216032) dan Firdanta (11215038). Alasan dewan juri memilih ketiga pola kain tersebut karena pola yang terbentuk sulit, warna yang dihasilkan pekat dan gradasi warna yang halus. Penutupan acara workshop ini dilakukan dengan melakukan foto bersama dan kesan pesan dari perwakilan himpunan.

Gambar 5. Proses penjemuran dan pemberian apresiasi tiga pola terbaik

 

Gambar 6. Foto bersama HMRH dan TERIKAT ITB

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *