SMILE CAMPAIGN BE15: Antara Apresiasi, Ekspresi, dan Esensi

Nama Rekayasa Hayati tiba-tiba menjadi marak di media sosial. Sebuah situs berita nasional malam itu menyebut salah satu jurusan muda ITB ini dalam salah satu linimasa beritanya. “Mahasiswi ITB Bagi-bagi Kue Gratis ke Warga, Syaratnya Cukup Senyum Saja,” begitu judulnya. Kegiatan yang dilakukan pada hari Kamis (11/08/16) itu sukses menyedot perhatian hampir seluruh pengunjung Taman Supratman mulai pukul 14.00 sampai dengan 18.00 WIB. Tanpa perlu menunggu lama, apresiasi pun segera mencuat dari berbagai pihak. Mulai dari jenderal PPAB hingga ketua himpunan HMRH, masing-masing memberikan apresiasi dengan caranya masing-masing. Sebuah pertanyaan sederhana kemudian terngiang. “Memangnya sudah pantas diapresiasi? Bagian mananya yang sudah patut diapresiasi?”

KBT 5

Apresiasi Parsial

Pernah menyaksikan penghargaan satyalancana yang diberikan oleh pemerintah? Penghargaan yang diberikan pastinya bersifat spesifik, pada satu kategori tertentu. Contohnya satyalancana bakti koperasi yang hanya diberikan kepada para tokoh penggagas koperasi yang berpengaruh. Meskipun koperasi yang ia miliki sekarang tidak begitu berkembang (bila dibandingkan dengan koperasi lain yang menyabet penghargaan koperasi teladan), satyalancana bisa didapatkan asalkan ia pernah menjadi penggagas koperasi. Apresiasi yang diberikan oleh pemerintah bersifat spesifik sehingga dengan sendirinya apresiasi tersebut memiliki ciri parsial, yakni hanya sebagian aspek bukan secara menyeluruh.

Apresiasi yang menyeluruh memang sulit untuk ditemukan. Sebabnya hampir selalu ada kekurangan dari setiap agenda yang telah dilaksanakan. Oleh itu, setiap apresiasi yang diterima hendaknya diterima sambil dicermati. Aspek mana yang diapresiasi dan aspek mana yang tidak diapresiasi? Pertanyaan ini harus senantiasa kita lontarkan ketika dihadapkan pada klausa apresiasi. Ini akan membantu kita mengontrol diri untuk tidak kelewat berbangga diri yang akan mendorong kita ke lembah keangkuhan.

Smile Campaign yang baru saja diapresiasi pun mesti diteliti lagi. Apakah segi pelaksanaannya yang patut diapresiasi? Panitianya? Pemilihan timing dan lokasinya? Atau mungkin apresiasi justru ditujukan untuk kue-kue yang dibagikan? Apapun sasaran apresiasi yang dimaksud oleh orang-orang yang mengapresiasi Quercus Infectoria, nama angkatan Rekayasa Hayati 2015, pada akhirnya angkatan yang baru terbentuk ini merasa senang dan bangga atas karya yang telah mereka siapkan sejak sebulan sebelumnya.

Keintiman Apresiasi dan Ekspresi

Apresiasi, bagaimanapun cara penyampaiannya tidak akan terlepas dari ekspresi. Keduanya memiliki keintiman yang telah diketahui oleh semua orang. Saking intimnya, kedua rupa ini bisa saling hadir ketika salah satunya telah hadir. Ekspresi dapat dilahirkan dari apresiasi, begitupun apresiasi dapat muncul akibat ekspresi seseorang.

Kaitannya dengan KBT (Kegiatan Bersama Terorgansir), salah satu acara dalam PPAB, yang telah terlaksanakan, Rekayasa Hayati 2015 telah menampilkan ekspresi yang mengesan. “Senyum kalian jujur,” ujar sang ketua acara di sela sesi evaluasi. Meski begitu sebagai seorang yang menghabiskan waktu lebih banyak di lapangan saat hari H acara KUKIS hari itu, saya harus jujur bahwa belum semua pelaku kegiatan menampilkan ekspresi yang semestinya. Bahkan ketika kue yang disodorkan telah dibeli dengan senyuman, belum semua penjual kue berterima kasih kepada para pembelinya. Tatapan datar, bahkan rupa setengah cemberut masih ditemukan meski hanya sedikit.

Terlihat sepele memang, tapi menurut saya kesannya tidak akan pernah sesepele itu. Bukankah sering kita jumpai masyarakat yang agak menarik diri dari mahasiswa? Mereka yang tinggal berdampingan dengan mahasiswa di sekitar kampus pun sebagian mengaminkan hal itu. Apalagi mahasiswa kampus teknik yang sering disandangkan dengan gelar kaku, serius, dan kurang dinamis. Jadilah ia semakin dipandang sulit masuk berbaur dengan masyarakat.

Apapun situasinya, semestinya ketika seorang mahasiswa bersua dengan masyarakat ia harus siap memberikan ekspresi terbaiknya. Ekspresi terbaik bukanlah yang selalu tersenyum dengan lebar atau tidak pernah memasang bibir cemberut sepanjang hari. Ekspresi terbaik ialah ekspresi yang jujur. Ia merupakan ekspresi yang lahir dari ketulusan dalam merasakan apa-apa yang benar-benar dirasakan.

Ketika sedang bahagia, tampillkanlah kebahagiaan itu. Ketika sedih melanda, kesedihan itu pun perlu ditampilkan sesuai porsinya. Hal itu lebih dinikmati oleh masyarakat dibandingkan ekspresi dingin setiap hari dalam berbagai kondisi.

“Kebaikan buat masyarakat itu bergantung kepada watak masyarakat dan didikan masing-masing orang,” ujar Tan Malaka dalam Madilog. Oleh karenanya mereka yang terdidik harus selalu menunjukkan watak terbaiknya kepada masyarakat sebelum mencoba berkontribusi lebih jauh. Dan senyuman-senyuman yang jujur ialah salah satu watak yang mampu membawa kesan kebaikan kepada masyarakat sekitar.

KBT 4

Esensi dalam Pohon KUKIS

Para tokoh eksistensialisme seperti Martin Heidegger (1883-1976), Jean-Paul Sartre (1905-1980), Karl Jaspers (1883-1969), dan Gariel Marcel (1889-1973) sepakat bahwa manusia terbentuk atas esensi dan eksistensi. Esensi yang dimaksud oleh mereka adalah arti hidup manusia. Singkatnya, menurut mereka arti hidup merupakan salah satu komponen terpenting yang harus dimiliki oleh manusia. Hilangnya esensi bisa berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia.

Esensi bersifat pribadi. Artinya pemahaman dan penghayatan akan esensi itu sendiri akan berbeda pada masing-masing orang yang coba menyerap maknanya. Maka pemaknaan dari acara smile campaign yang baru saja selesai itu tentunya memiliki makna tersendiri bagi masing-masing pihak yang menjalaninya. Mulai dari Rekayasa Hayati 2015, Panitia PPAB HMRH 2016, hingga para mahasiswa Rekayasa Hayati yang lebih senior. Masing-masing tentu memiliki esensi tersendiri dari KBT yang baru saja berakhir.

Ada yang mendapat esensi komunikasi. Betapa pentingnya komunikasi dalam satu angkatan. Ini terbukti dengan sulitnya komunikasi antar komponen di lapangan. Komandan lapangan, ketua regu, pembawa kue, tim doorprize, dan para strangers tidak dapat berkomunikasi begitu saja ketika sudah turun ke Taman Supratman. Komunikasi yang telah dilakukan dengan bantuan aplikasi walkie-talkie online ini pun masih memiliki banyak hambatan, termasuk pada akhirnya menimbulkan delay informasi yang terhitung cukup lama untuk jarak komunikasi yang relatif dekat.

Esensi pentingnya komunikasi ini bahkan memunculkan esensi lainnya, yakni pentingnya saling memahami dan percaya dalam satu angkatan. Bagaimana seorang danlap pun pada akhirnya harus percaya dengan pergantian pembawa kue, dari orang yang sulit berhenti bicara kepada orang yang masih malu-malu untuk membuka mulutnya. Tidak semua hal dapat kita selesaikan sendiri. Oleh karenanya percaya kepada sesama akan sangat mempermudah terciptanya sinergi antar mahasiswa.

Esensi dari KBT masih jauh lebih banyak dari apa yang telah disebutkan di atas. Mulai dari adanya transfer secara langsung salah satu budaya himpunan berupa audiensi sebelum KBT, terbangunnya komunikasi yang lebih intens antar angkatan Rekayasa Hayati setelah audiensi, pendidikan teknis forum dan pengadaan acara secara tidak langsung kepada Rekayasa Hayati 2015, simulasi turun ke masyarakat, hingga esensi memenuhi target dan parameter keberhasilan dari suatu agenda. Kesemua esensi itu tertanam dengan kokoh dalam pohon KUKIS. Sekarang tinggal bagaimana setiap pribadi memetik buah dari pohon yang telah lengkap itu. Semoga pohon ini terus hidup dan siap menunaskan pohon baru di tahun selanjutnya.


Penulis: Muhammad Arief Ardiansyah

Foto: Dokumentasi KBT 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *