Sabet Juara Harapan I pada Lomba Karya Tulis Ilmiah untuk Pertanian Azolla microphylla yang Terintegrasi

IMG_0771Dari 85 karya yang dilombakan pada ajang Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional yang diselenggarakan oleh Universitas Negeri Yogyakarta, karya dari ketiga mahasiswa Rekayasa Hayati ITB dengan judul “Pertanian Azolla microphylla Terintegrasi untuk Meningkatkan Potensi Lokal Indonesia: Produksi Hidrosilat Protein, Pemanfaatan Ampas untuk Produksi Biogas, dan Konversi By-Product Asam Sulfida (H2S) Menjadi Elemen Sulfur” meraih prestasi dengan meraih juara harapan 1. Ketiga mahasiswa itu Fery Febriansyah, Nurhayati Br. Tarigan, dan Rama Fadli. Tema yang diangkat adalah  Kontribusi Generasi Muda Melalui Invensi, Inovesi, dan Kreasi dalam Pengelolaan Potensi Lokal Menuju Indonesia Mandiri Berdaya Saing Global. Lomba yang digelar dalam rangka UNY Scientific Fair 2016 ini diikuti oleh sekitar 37 universitas di Indonesia.

Lomba Karya Tulis lmiah ini menjadi salah satu ajang bagi Mahasiswa Rekayasa Hayati dalam menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya dalam sebuah karya yang dapat menjadi solusi berbagai permasalahan bangsa Indonesia yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat khususnya di bidang teknologi berbasis hayati.

Azolla microphylla sebagai pupuk hayati

Azolla microphylla yang merupakan salah satu genus tumbuhan paku air dapat mengikat nitrogen (N) sangat tinggi sekitar 2-3 kg/ha/hari di atmosfer dan melipatgandakan pertumbuhan biomassa selama 3-10 hari. Kemampuannya dalam mengikat nitrogen yang sangat tinggi menjadikan Azolla banyak dimanfaatkan sebagai pupuk hayati, penjernihan air, dan pakan ternak. Terlebih protein dari Azolla microphylla akan bernilai ekonomi sangat ti nggi apabila diperoleh dari hasil pengekstraksian berupa hidrosilat protein. Selain itu, ampas yang dihasilkan dari proses tersebut tidak dibuang begitu saja melainkan dimanfaatkan semaksimal mungkin menjadi biogas dan konversi by-product H2S menjadi elemen sulfur dengan memanfaatkan bakteri Thiobacillus sp. yang notabene merupakan sumber daya asli Indonesia. Hal ini yang diharapkan Nurhayati, Fery, dan Rama mampu membawa Indonesia mandiri dan berdaya saing global

Sibuknya tugas akhir yang dilakukan oleh ketiga mahasiswa ini tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk terus berkarya dan berprestasi baik yang berhubungan dengan jurusannya maupun jurusan lain. “Tidak mudah membagi waktu antara TA dan ngerjain lomba tapi ini juga bisa jadi hiburan selagi TA. Mahasiswa Rekayasa Hayati harus sering-sering ikutan gini, cari ilmi dan pengalaman dari mahasiswa-mahasiswa dan dosen-dosen dari universitas lain ”, ungkap Nurhayati sebagai salah satu anggota tim.

Namun ada saja kendala yang dirasakan sangat penting bagi mahasiswa yaitu soal dana. Nurhayati berharap adanya dana dari fakultas untuk mendukung kegiatan lomba yang diikuti oleh mahasiswa, bukan hanya untuk mendukung acara-acara seminar saja. (FA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *