Review Seminar Industri IECOM 2014 “Sustainable Development: Is It The Best Answer for The Future?”

Bandung – Pada tanggal 12 Januari 2014 yang telah lalu, beberapa HMRH-ers menghadiri seminar industri yang diadakan oleh Keluarga Mahasiswa Teknik Industri (MTI) ITB, yang bertajuk, “Sustainable Development: Is It The Best Answer for The Future?”. Bertempat di Aula Barat Kampus ITB Jalan Ganesha, seminar tersebut mendatangkan lima pembicara, yaitu Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo M. A. , Mochammad Ridwan Kamil, S. T., M. Ud., Putri Silalahi, Petrus ┬áSunarso, dan Ir. Abdul Rochim, M. Si.

Dr. Ir. Lukita Dinarsyah Tuwo M. A. adalah Wakil Menteri Bappenas, dan di seminar ini beliau membicarakan mengenai strategi untuk mengimplementasikan agenda pengembangan berkelanjutan di Indonesia. Pengembangan berkelanjutan atau Sustainable Development adalah interaksi yang terharmonisasi antara manusia (sosial), planet (lingkungan), dan profit (ekonomi), atau dapat juga diartikan sebagai kemampuan manusia menemukan kebutuhannya tanpa menimbulkan masalah pada kemampuan generasi masa depan untuk menemukan kebutuhannya. Pengembangan berkelanjutan diperlukan untuk mengatasi masalah keamanan pangan, air, dan energi (PAE). Akibat pertumbuhan populasi, konsumsi meningkat, penggunaan energi per kapita meningkat, namun akses PAE dan kualitasnya tidak tersebar dengan merata. Karena dampak-dampak ini pula, terjadi degradasi lahan dan desertifikasi sehingga sumber energi fosil dan persediaan air mengalami masalah. “Indonesia itu masih bersandar pada transportasi privat, yang berkaitan erat dengan ketersediaan sumber energi fosil, padahal transportasi publik adalah salah satu kunci pengembangan berkelanjutan,” ucap Bapak Lukita.

Lalu pembicara selanjutnya adalah Mochammad Ridwan Kamil, S. T., M. Ud., Walikota Bandung. Kang Emil, begitu ia akrab disapa, menguraikan mengenai pengembangan berkelanjutan yang beliau terapkan dalam rencana kerjanya selama 5 tahun ke depan. Salah satu program kerjanya yang sedang beliau kerjakan adalah memperbaiki infrastruktur hijau kota Bandung, termasuk ke dalamnya adalah taman kota. “Dengan membangun infrastruktur hijau, maka akan tercapai 30% ruang hijau di Bandung ini. Sementara ini Kota Bandung masih hanya mempunyai sekitar 8% ruang terbuka hijau dari seluruh luas kota,” terang Kang Emil. Bicara mengenai revitalisasi dan pembangunan taman-taman kota yang sedang dikerjakannya saat ini, “Manusia itu makhluk bermain. Jika seluruh waktunya digunakan bekerja, keadaan psikologinya tak seimbang. Ruang publik adalah ruang untuk bermain. Namun kenyataannya, ruang publik di Bandung bahkan ditelantarkan. Itu menjadi dasar pengembangan ruang publik, karena ruang publik juga ruang sosial, ruang ekologis, yang diperlukan untuk pengembangan berkelanjutan.” Kang Emil juga mengatakan bahwa pengembangan suatu kota agar berkelanjutan juga harus didukung oleh warganya, yang diawali dengan meningkatkan happiness index warga Kota Bandung. “Saya ingin membuat warga Kota Bandung menjadi warga paling bahagia di Indonesia,” ucap beliau lagi.

Pembicara ketiga adalah Putri Silalahi dari The Coca Cola Amatil Indonesia (CCAI). Beliau menerangkan bahwa CCAI adalah perusahaan yang telah mulai bergerak pada pengembangan berkelanjutan, dengan berbagai usaha-usaha yang telah dilakukannya, seperti memproduksi botol-botol PET di setiap daerah produk CCAI dipasarkan untuk mengurangi energi yang dibutuhkan untuk pendistribusian, menggunakan pendingin hemat energi yang mengonsumsi hanya setengah dari daya yang biasanya diperlukan, menurunkan jumlah kemasan yang digunakan dan memastikan bahwa kemasan tersebut dapat didaur ulang, dan mengurangi penggunaan air untuk pengoperasian. “Pendingan hemat energi kami pun di sini menggunakan kaca thermal yang dapat menjaga botol agar tetap dingin saat listrik tak digunakan, menggunakan penerangan LED, serta sensor otomatis agar listrik tidak digunakan saat memang tidak diperlukan. Lalu, dalam daur ulang limbah, kami mendaur ulang limbah botol menjadi kompos, dan menggunakan ulang sugar container,” tambah Putri Silalahi lagi.

Pembicara selanjutnya adalah Petrus Sunarso dari PT. Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP). RAPP adalah perusahan yang bergerak di produksi pulp kertas paling besar dan memiliki mesin kertas premium paling cepat di dunia. Prinsip-prinsip RAPP untuk menyeimbangkan aspek lingkungan dalam resource management-nya adalah pengelolaan hutan tanaman secara lestari, penyiapan lahan tanpa pembakaran, kelegalan sumber bahan baku, pengelolaan limbah produksi, penghematan energi, dan pengurangan emisi. Untuk air treatment, RAPP menggunakan electrostatic precipitator dan wet filter agar kebersihan udara di sekitar lahan hutan tetap terjaga. Lalu, RAPP juga mendaur ulang energi dari biomassa seperti lindi hitam, metanol, kotoran, dan kulit kayu untuk 85% energi yang digunakan. Mereka juga menggunakan alat untuk mendeteksi tapak karbon dan melakukan fire management untuk mengatasi dampak yang dapat terjadi sekaligus menyeimbangkan aspek lingkungan.

Pembicara terakhir adalah Ir. Abdul Rochim dari Kementrian Industri RI. Beliau menguraikan mengenai langkah-langkah apa saja yang telah Kementrian Industri RI lakukan untuk menuju pengembangan berkelanjutan, dan langkah-langkah itu salah satunya berupa kebijakan dalam agroindustri Indonesia. “Salah satu kebijakan tersebut berupa pelarangan ekspor rotan, yang ternyata setelah dijalankan menghasilkan stimulasi hasrat entrepreneurship pada industri produk rotan dalam negeri. Lalu penetapan bea cukai pada barang ekspor, termasuk biji kakao, pun telah mendorong kapasitas produksi industri kakao dan laju konsumsi kakao per kapita dalam negeri,” terang Bapak Abdul Rochim.

Secara garis besar, seminar ini membicarakan usaha-usaha pengembangan berkelanjutan yang telah dilakukan dari berbagai aspek, khususnya dari pihak industri. Namun perihal ini juga layaknya menjadi refleksi bagi kita, selaku individu pembangun negeri dan penghuni Bumi, untuk turut menerapkan pengembangan keberlanjutan atau sustainable development di setiap sudut-sudut kehidupan kita. Dari seminar ini, telah diketahui bahwa beberapa industri kini sudah mulai bergerak untuk mengurangi dampak-dampak yang dapat menurunkan sustainability planet ini, serta, bersamaan, menghemat energi yang mereka gunakan dengan usaha-usaha efisiensinya. Hendaknya kita dapat memulainya dari hal-hal kecil di kebiasaan kita sehari-hari, seperti membatasi air yang kita gunakan untuk mandi, mematikan lampu kamar saat siang hari, dan menggunakan alat-alat elektronik yang hemat listrik. –DR

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *