Reklamasi Hutan Bekas Tambang: Teknologi Penyelamat Paru-Paru Dunia

Oleh: Adelina Listyo Yuwono (Rekayasa Kehutanan 2012)

Hutan memiliki banyak fungsi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan makhluk di muka bumi. Hutan berfungsi sebagai penjaga fungsi tata air, penghasil oksigen, menyerap dan menyimpan karbondioksida, memperlambat pemanasan global dan mengurangi dampak perubahan iklim. Tak hanya manusia, hewan dan tumbuhan pun sangat bergantung pada hutan. Hutan merupakan rumah bagi duapertiga dari spesies tanaman dan binatang di dunia. Indonesia merupakan pemilik hutan terluas ke-3 di dunia setelah Brasil dan Kongo. Itu artinya Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga iklim dunia dan menjaga keanekaragaman hayati dunia.
Namun keadaan hutan Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Menurut data Departemen Kehutanan RI tahun 2006, luas hutan yang rusak telah mencapai 59,6 juta hektar dari 120,35 juta hektar kawasan hutan di Indonesia. Disebut-sebut hampir 70 persen dari kerusakan hutan di Indonesia akibat dari kegiatan pertambangan.

rekl
Sumber: jakartacity.olx.co.id

Bahan galian tambang tentunya tidak terdapat di permukaan tanah, namun terdapat dibawah lapisan tanah dan batuan yang sebagian besar dibawah ekosistem hutan. Maka untuk mendapatkan bahan tambang tersebut harus dilakukan pembukaan lahan dan pengupasan lapisan-lapisan tanah atau batuan. Kegiatan ini tidak hanya sekedar merusak ekosistem hutan tetapi juga merusak kondisi fisik, kimia dan biologis tanah seperti lapisan tanah menjadi tidak berprofil, terjadi pemadatan, hilangnya unsur hara esensial, tingkat kemasaman tanah menjadi tinggi (pH tanah rendah) akibat mineral sulfida pada lapisan tanah atau batuan mengalami oksidasi dengan air dan udara, pencemaran logam-logam berat, hingga penurunan populasi aktifitas mikroba tanah.

Dalam suatu kegiatan pertambangan biasanya terdiri dari beberapa tahapan, yaitu tahap persiapan, tahap eksplotasi dan yang terakhir tahap reklamasi. Pada tahap persiapan, dimulai dengan pembukaan lahan hutan secara besar-besaran untuk area pertambangan, untuk membuka akses dari dan menuju area pertambangan, untuk pembuatan kantor sampai gudang. Bayangkan berapa juta hektar hutan yang ditebang untuk kegiatan persiapan tambang.
sss
Sumber: http://www.mongabay.co.id/tag/tambang/

Sebelum ke tahap eksploitasi, lapisan tanah penutup bahan tambang dikupas. Kerap sekali pengupasan, penyimpanan dan pengembalian tanah penutup bahan tambang tidak diawasi dengan ketat, akibatnya pada saat penutupan lahan bekas tambang, lapisan tanah menjadi tidak berprofil. Sebaiknya bahan-bahan galian penutup bahan tambang tersebut dikembalikan hingga mendekati aslinya. Karena pada akhirnya, area bekas kegiatan pertambangan ini yang dulunya merupakan ekosistem hutan, harus dikembalikan lagi menjadi ekosistem hutan (revegetasi). Sesuai dengan aturan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, dimana dalam undang-undang tersebut setiap perusahaan tambang wajib melakukan normalisasi yang berati kegiatan usaha untuk menata, memulihkan dan memperbaiki ekosistem dalam hal ini ekosistem hutan agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Perlu diingat bahwa keberlangsungan hidup ekosistem hutan bergantung pada kondisi fisik, kimia dan biologis tanah yang menunjang.
Untuk mengembalikan kondisi tanah yang rusak akibat kegiatan pertambangan ini diperlukannya perbaikan ruang tubuh, pemberian top-soil dan bahan organik dan pemberian kapur. Namun pemberian top-soil dan bahan organik di nilai sulit dan membutuhkan dana yang cukup besar.

Solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menanam jenis tanaman yang dapat memfiksasi nitrogen seperti kacang-kacangan atau polong-polongan. Jenis tanaman ini memiliki akar yang dapat bersimbiosis dengan bakteri Rhizobium yang dapat mengikat nitrogen dan mengubah nitrogen menjadi nitrat. Akibat adanya simbiosis ini, tanaman jenis ini dapat tercukupi kebutuhannya. Dengan adanya tanaman ini diharapkan dapat mengurangi laju aliran permukaan dan memperbaiki profil tanah khususnya bagian top-soil. Tanaman jenis ini juga menghasilkan banyak serasah dan memiliki siklus hidup yang singkat yang pada akhirnya akan didekomposisi menjadi bahan organik dan memperbaiki top-soil.

Disaat yang bersamaan, kita juga dapat menanam pohon sengon. Pohon sengon terbukti dapat adaptif di tanah masam, relatif cepat tumbuh dan daunnya mudah dikomposisi. Sama halnya dengan tanaman jenis kacang-kacangan atau polong-polongan, sistem perakaran pohon sengon banyak mengandung nodul akar sebagai hasil simbiosis dengan bakteri Rhizobium yang dapat memfiksasi nitrogen dan dapat membuat tanah sekitarnya menjadi lebih subur. Dengan adanya vegetasi di lahan bekas pertambangan ini diharapkan dapat memperbaiki kondisi fisik, kimia dan biologis tanah, dan dapat menarik satwa-satwa disekitarnya yang membawa benih-benih lain untuk tumbuh hingga terbentuk vegetasi klimaks.

Referensi :
Sheoran, V., Sheoran, A.S., & Poonia. P. (2010). Soil Reclamation of Abandoned Mine Land by Revegetation: A Review. International Journal of Soil, Sediment and Water 3 (2)
Kusuma, A.P. (2012). Menambang Tanpa Merusak Lingkungan. Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
Rahmawati, S. (2011) : Restorasi Lahan Bekas Tambang Berdasarkan Kaidah Ekologi, Skripsi Sarjana Ilmu Kehutanan USU, Sumatera Utara.

 Juara 2 Lomba Bio Article Competition HMRH 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *