REDD+: Konservasi Karbon dalam Pemanfaatan Hutan Yang Berkelanjutan

Oleh: Vany Fadhilah (Rekayasa Kehutanan 2012)

Peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) saat ini telah menjadi isu internasional. Tingginya konsentrasi GRK dalam atmosfir akan memantulkan kembali sebagian besar radiasi matahari dalam bentuk gelombang sinar infra merah ke atas permukaan bumi, sehingga bumi akan semakin panas. Kejadian inilah menyebabkan pemanasan global. Menurut para ahli, gas rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global yaitu CO2, CH4, N2O, dan gas-gas yang mengandung fluor seperti HFCs, PFCs, dan SF6. Namun, konsentrasi terbesar ada pada CO2 yaitu 75%. Sehingga kandungan GRK selalu disetarakan dengan kandungan CO2 di atmosfir (Sukadri, 2013). Meningkatnya emisi GRK ini sebagian besar disebabkan oleh deforestasi dan degradasi hutan di negara berkembang serta emisi industri dari negara maju. Berdasarkan data FAO (2005), deforestasi dari 10 negara berkembang yaitu sebesar 8,22 juta Ha, dimana 1,87 juta dari luas tersebut merupakan deforestasi dari Indonesia. Peningkatan emisi dari laju deforestasi di negara-negara berkembang diperkirakan akan terus meningkat mengingat jumlah penduduknya yang terus meningkat secara eksponensial yang akan berdampak pada kebutuhan lahan. Oleh karena itu, diperlukan penyerap karbon dalam skala luas untuk menurunkan emisi CO2 khususnya di negara-negara berkembang termasuk indonesia.

REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation in Developing Countries Plus) hadir sebagai solusi. REDD+ adalah mekanisme internasional yang dimaksudkan untuk memberikan insentif yang bersifat positif bagi negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan yang disepakati 190 negara dalam United Nation Framework Convention on Climate Change atau biasa disebut UNFCCC (Masripatin, 2007). REDD+ merupakan kolaborasi terbaik antara negara maju yang tidak banyak memiliki lahan hutan dengan negara berkembang yang memiliki hutan tropis yang luas dalam upaya penurunan emisi GRK. REDD+ menyertakan tiga peran hutan yaitu conservation, suistanable management of forest dan enhancment of carbon stock.
Karbon yang disimpan dalam biomassa hutan yang merupakan hasil dari fotosintesis mewakili karbon yang diserap dari atmosfir. Biomassa di dalam hutan meliputi biomassa atas permukaan tanah, biomassa bawah permukaan bawah, Bahan organik mati dan karbon organik tanah (Sutaryo, 2009). Sehingga dengan menghitung total biomassa per satuan luas akan didapatkan jumlah karbon per satuan luas. Biomassa terbesar terdapat pada batang pohon (kayu). Oleh karena itu, untuk mendapatkan jumlah biomassa yang besar, spesies yang sebaiknya digunakan yaitu spesies penghasil kayu yang memiliki kemampuan daya serap CO2 yang tinggi.

REDD

Pada tingkat global, emisi dari deforestasi per tahun yaitu sebesar 4.8 Gt CO2 atau setara dengan 1.3 Gt karbon), dengan estimasi potensi pengurangan emisi CO2 antara 10-50%, dan harga CO2 sebesar US 7-20 per ton CO2. Maka potensi dari pasar karbon pada tingkat global yaitu sebesar USD 2-31 milyar per tahun. Sedangkan di Indonesia, dengan menggunakan data laju deforestasi antara tahun 2000 sampai dengan 2005 sekitar 1,2 juta Ha per tahun, dan asumsi stok karbon antara 100-300 ton per Ha atau setara dengan penyerapan CO2 sebesar 368 sampai dengan 1104 ton per Ha, maka potensi dari pasar karbon antara USD 0.31 – 13,25 Milyar (Masripatin, 2007).

Wilayah Indonesia yang beriklim tropis memiliki potensi yang besar untuk melaksanakan REDD+. Pelaksanaan REDD+ di Indonesia memiliki banyak manfaat yang didapatkan secara paralel yaitu sebagai mitigasi perubahan iklim, menurunkan emisi CO2 di atmosfir, menurunkan laju deforestasi, adanya transfer teknologi dari negara maju, keanekaragaman hayati di dalam hutan tropis terjaga, dan hal yang paling penting adalah sektor kehutanan dapat mempertahankan luas area hutan dan mendapat keuntungan ekonomi tanpa harus menebang hutan. Dengan begitu, program REDD+ merupakan pemanfaatan hutan yang berkelanjutan, secara ekologi dan ekonomi.

Referensi:
Masripatin, N. (2007). Apa itu REDD. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan. Jakarta.

Sutaryo, D. (2009). PENGHITUNGAN BIOMASSA Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon. Wetlands International Indonesia Programme, Bogor, 5-15.

Sukadri, Doddy Surachman. 2013. Memahami Negosiasi Perubahan Iklim: REDD dan LULUCF. Jakarta: Kementrian Kehutanan Republik Indonesia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *