Mereka-Reka Rekayasa Hayati

bioengineeringBANDUNG – Rekayasa Hayati merupakan prodi baru di SITH yang dibentuk pada tahun 2010. Sebelumnya, Rekayasa Hayati masuk dalam Sekolah Ilmu Teknologi Hayati (SITH). Namun, sejak 2012, SITH terbagi menjadi dua program, yaitu SITH-Sains dengan program studi Biologi dan Mikrobiologi dan SITH-R dengan program studi Rekayasa Hayati, Rekayasa Pertanian, Rekayasa Kehutanan, dan yang terbaru adalah Pasca Panen. Lalu kenapa ada Rekayasa Hayati ?

Berdasarkan fakta di Indonesia, keadaan sumber daya hayati yang tinggi serta sumber biomaterial renewable dan sustainable yang berpotensi belum bisa dimanfaatkan dan dikelola dengan optimal. Oleh karena itu, dibutuhkan seorang bioengineer yang mampu mengoptimalisasi sumber daya yang ada sehingga bernilai bioeconomy, lebih spesifiknya seorang bioengineer yang dapat mengembangkan sistem produksi berbasis hayati.

Sebenarnya apa itu Rekayasa Hayati ?

Rekayasa Hayati merupakan multidisiplin ilmu yang menggabungkan teknik dan sains yang diaplikasikan dalam suatu biosistem guna merekayasa regulasi dan mekanisme proses pada mahkluk hidup sehingga menghasilkan suatu biproduk. Hal itu dilakukan guna meningkatkan efisiensi biorpoduk yang melingkupi bidang 6F yaitu  food (makanan), feed  (pakan ternak), fiber (serat), fuel (bahan bakar), fertilizer (pupuk), dan  fine chemical ( zat kimia murni ). Contoh secara nyata adalah produksi bioetanol dari ketela pohon atau produksi vaksin dari pisang.

Di Rekayasa Hayati ITB, agen hayati yang diigunakan lebih menitikberatkan pada tumbuhan. Mengapa demikian? Sesuai dengan tujuan awal seorang bioengineer, yaitu menciptakan suatu bioproduk dengan sistem yang efisien dalam lingkungan terkontrol (bioreaktor)[1]. Tumbuhan dipilih karena tumbuhan merupakan salah satu organisme autotroph[2] yang mampu memanfaatkan energi matahari (energi utama) secara langsung sehingga persentase energi yang didapat dari konversi energi matahari (foton) melalui fotosintesis lebih besar dibandingkan dengan hewan atau bahkan manusia. Hal ini dilihat dari aliran energi berdasarkan tingkatan trofiknya. Hanya 10% energi awal yang dapat dimanfaatkan oleh tingkat trofik selanjutnya, sedangkan 90% energinya akan hilang sebagai panas. Artinya, makhluk hidup yang memakan langsung tumbuhan hanya mendapatkan 10% energi dari energi tumbuhan dalam proses rantai makanan.

Konsep berfikir di Rekayasa Hayati adalah living organism merupakan sebuah mesin produksi yang tidak terpisahkan dari sistem produksi. Jika mahasiswa Rekayasa Hayati berfikir mikroba X adalah suatu mesin produksi enzim, tentu berbeda jika dibandingkan dengan konsep berfikir teknik kimia yang memandang jika enzim yang dihasilkan dari mikroba X mampu digunakkan sebagai katalisator[3]

Yuk intip video Sekilas tentang Rekayasa Hayati!


[1] Suatu tempat berlangsungnya proses produksi (reaksi)

[2] Organisme yang mampu mengubah senyawa anorganik menjadi senyawa organik

[3] Pemercepat reaksi


Penulis: Arsy Elia

Editor: Almira Lisantika

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *