Meraih Juara 1 untuk Karya Ilmiah dengan Optimasi Produktivitas Biodiesel Berbasis Mikroalga

1467177473077

Disadur dari itb.ac.id – ITB kembali bersinar melalui 3 mahasiswanya yang meraih Juara 1 Karya Tulis Ilmiah  dalam kompetisi MIPA Untuk Negeri Universitas Indonesia pada Kamis (24/03/16). Endang Rahmat, Hamdin Kifahul Muhajir, dan Muhammad Ramadhan Kadar (Rekayasa Hayati 2012) berhasil menyusun karya ilmiah yang berjudul “Teknik Peningkatan Produktivitas Mikroalga Botryococcus braunii sebagai Sumber Bahan Baku Biodiesel di Indonesia”. Karya terserbut dapat menjadi inspirasi dalam pembangunan Indonesia selanjutnya.

Eksplorasi Potensi Mikroalga Endemik Indonesia

Meningkatnya populasi penduduk Indonesia berdampak pada peningkatan kebutuhan energi terbarukan. Peningkatan ini berbanding terbalik dengan ketersediaan bahan baku energy fosil yang masih digunakan sebagai sumber energy utama dan kini justru semakin berkurang. Solusi atas kelangkaan tersebut beriringan pula dengan upaya mengurangi perubahan iklim global akibat energi fosil, mahasiswa ITB berinovasi dalam menghasilkan sumber energi terbarukan dan ramah lingkungan. Sebagai negeri berpredikat megabiodiversiti (tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi) salah satu sumber energi hayati yang berpotensi adalah mikroalga.
Variasi jenis yang tinggi pada organisme tersebut dan potensi besar untuk dikembangkan menjadi sumber bahan baku bioefuel menjadi dasar pemilihan jenis mikroorganisme tersebut. Selain itu, spesies mikroalga yang berpotensi sebagai bahan baku biofuel adalah Botrycoccus braunii yaitu mikroalga endemik perairan Indonesia dan umumnya tumbuh baik di air tawar. Sekitar 75% berat kering mikroalga tersebut berupa kandungan minyak yang dikategorikan sangat tinggi. Dengan persentasi yang tinggi tersebut, semakin besar peluang pemanfaatan Botrycoccus braunii.
“Jadi intinya kami ingin meningkatkan yield (perolehan, -red) dari mikroalga Botryococcus braunii. Dengan cara optimasi pada setiap tahapannya (mulai kultivasi, pemanenan hingga ekstraksi). Mengapa Botrycoccus braunii? Karena mikroalga ini sangat potensial, kandungan minyaknya bisa sampai 70-75%, selain itu bisa tumbuh di mana-mana, pertumbuhannya juga cepat, memiliki produktivitas lebih tinggi dari kelapa sawit. Keuntungan lainnya, bisa menyerap karbon dioksida. Oleh karena keuntungan-keuntungan tersebut maka kita merasa perlu organisme ini untuk  dioptimasi,” ungkap Hamdin. Hamdin menambahkan bahkwa pada tahap kultivasi, optimasi atau inovasi dapat dilakukan dengan metode greencycle yaitu dengan merekayasa fase heterotrof mikroalga tersebut.

Inovasi dalam Optimasi

Proses pengolahan produk biodiesel dari mikroalga sangat memerlukan teknik khusus yang sesuai. Produktivitas dan yield minyak yang dihasilkan dari spesies mikroalga tersebut sangat dipengaruhi teknik budidaya, pemanenan, hingga ekstraksi kandungan minyak Botrycoccus braunii. Ketiga mahasiswa ITB tersebut telah merancang berbagai optimasi di antaranya, dari teknik budidaya melalui kultur Botrycoccus braunii yang digunakan, ternyata  mengombinasikan konsep “green cycle” dengan sistem kultur semi kontinyu. Sistem ini dapat menghasilkan biomassa optimal dan dapat menjaga stabilitas kondisi kualitas air kultur. Optimasi yang diakukan, ternyata dapat meningkatkan laju pertumbuhan, yaitu dengan indicator tercapainya doubling time yang beberapa kali lebih cepat.
Kemudian, peningkatan biomassa Botrycoccus braunii dapat dioptimalkan melalui pemanenan yang efektif dan tepat. Tim ITB ini memilih flokulan NaOH yang terbukti memiliki kemampuan dapat mengendapkan 80% biomassa dengan biaya yang relatif terjangkau. Kemudian pada ekstraksi minyak, digunakan metode supercritical fluid extraction yang memiliki kapasitas ekstraksi untuk menghasilkan produk 100% minyak yang terkandung dalam biomassa Botrycoccus braunii. Inovasi-inovasi teknik kultivasi, pemanenan, dan ekstraksi tersebut terbukti dapat meningkatkan produktivitas dan yield minyak yang dihasilkan oleh Botrycoccus braunii sebagai bahan baku biodiesel.
“Alhamdulillah bisa meneruskan trend juara ITB khususnya terkait sebagai mahasiswa Rekayasa Hayati. Harapannya bisa lebih banyak mahasiswa ITB yang berpartisipasi lagi di event-event Nasional semacam gini dan stakeholder terkait bisa lebih men-support juga,” tutup Hamdin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *