Mencoba Jajal Kemampuan, Mahasiswa ITB Ikuti Birdwatching Competition

cobaPasca erupsi Gunung Merapi 2010 lalu, terjadi penurunan jumlah burung yang biasa hidup bebas di sekitar Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Yogyakarta. Guna mengupdate kembali jumlah burung, Balai TNGM Yogyakarta mengadakan ‘bird watching competition’ yang digelar di Bumi Perkemahan Karang Pramuka, Kaliurang, Sleman, tanggal 5 – 7 September 2014. Kegiatan ini diikuti lebih dari 240 peserta yang berasal dari seluruh Indonesia. Mahasiswa ITB pun turut berpartisipasi mengikuti rangkaian acara ini dengan total 31 orang peserta dari jurusan Biologi (BI) dan Rekayasa Kehutanan (BW) yang kemudian dibagi menjadi 11 tim, yang terdiri dari 2 tim alumni dan 9 tim mahasiswa. Mereka resmi diberangkatkan untuk mewakili nama besar kampus Ganesha. Ini merupakan kali pertama mahasiswa ITB berpartisipasi dalam kegiatan ini.

Lomba ini bertujuan untuk mengumpulkan data-data persebaran dan keanekaragaman jenis burung di Taman Nasional Gunung Merapi, serta menjadi ajang pertemuan para pecinta dan pengamat burung dari berbagai daerah di Indonesia untuk menyalurkan kemampuan dan pengetahuannya mengenai jenis-jenis burung.

Birdwatching adalah kegiatan mengamati burung dengan peralatan khusus, seperti teropong atau binocular, lalu mencatat nama spesies, jumlah individu, perilaku, dan aktivitas burung ketika ditemukan. Kegiatan ini cukup popular di seluruh dunia, bahkan even-even akbar kelas dunia pun kerap digelar. Selain mengamati burung, birdwatching juga merupakan salah satu cara untuk mencatat penyebaran, populasi, dan perilaku burung di alam liar dalam suatu wilayah.

Berawal dari mata kuliah Taksonomi Hewan yang dipelajari oleh para peserta, mereka berkeinginan untuk mengasah kemampuan sekaligus mencari pengalaman baru dengan mengikuti kompetisi yang berskala nasional ini. Persiapan yang dilakukan untuk mengikuti lomba ini antara lain melakukan latihan untuk mengenali suara burung, sketching burung, dan membaca banyak literatur terkait burung. Adapun kegiatan latihan diselenggarakan antara lain di Rancau Ampas, Parongpong, dan Taman Ganesha. Ketiga tempat itu digunakan karena representatif dan merupakan daerah dataran tinggi.

Birdwatching Merapi 2014 dibagi dalam beberapa sublomba yaitu, pengamatan, cerdas cermat, dan kuis. Ketiga aktivitas ini wajib diikuti seluruh peserta. Lomba tambahan yang akan digelar adalah fotografi dan desain logo.

Selain lomba mengamati burung, peserta yang terdiri dari mahasiswa, instansi pemerintah dan pemerhati burung ini juga diadakan ‘workshop’ mengenai ilmu perburungan. Untuk workshop menghadirkan sejumlah narasumber mulai dari praktisi burung hingga fotrografer yang memang mengkhususkan untuk membidik binatang yang berada di alam liar.

Teknis kegiatan pengamatan sendiri dimulai pada pukul 05.30 pagi hingga pukul 12.00. Para peserta dihimbau untuk mengenakan pakaian berwarna gelap dan diberikan map berisi peta dan data burung-burung yang terdapat dalam Taman Nasional Gunung Merapi tersebut. Peserta mulai tracking mengitari Taman dengan jalur yang telah ditentukan dalam peta sambil mendengarkan suara burung dan mengamati sekitar. Pada saat menemukan burung (spotting), para peserta harus segera menggambar (sketching) burung tersebut, atau dapat difoto terlebih dahulu. Kemudian burung yang telah digambar harus dilengkapi dengan deskripsi dasar seperti waktu penemuan, habitat, morfologi tubuh, dan nama spesies (dalam bahasa Latin, Inggris, dan Lokal).

Adapun kelengkapan data menjadi poin utama dalam penilaian lomba ini. Pada akhirnya, para peserta ini pun harus berlapang dada karena belum berhasil meraih penghargaan dalam lomba pengamatan. Namun, kabar gembira datang dari lomba cerdas cermat dengan materi mengenai burung. Para peserta dari ITB berhasil meraih pencapaian tertinggi sebagai juara 2 dan 3.

Ini merupakan langkah awal yang cukup baik bagi mahasiswa ITB, dan akan berguna dalam mengikuti kompetisi sejenis nantinya. Ada banyak hal yang ternyata didapatkan para peserta selama mengikuti lomba ini. Irhammaula Ario (BW’12) mengatakan bahwa dari lomba ini ia menjadi memiliki pandangan yang semakin terbuka terhadap lingkungan, terutama terhadap nilai ekologis burung dan peranan burung sebagai bioindikator dalam suatu wilayah. Hal-hal kecil seperti keberadaan burung teryata mampu berdampak besar terhadap suatu wilayah. (Tim Magang Medkominfo’13)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *