Melawan Ebola dengan Tembakau

Endemik Ebola di Afrika Barat (theguardian.com)

Sekarang, endemik ebola terjadi di Afrika Barat. Berdasarkan informasi dari WHO per Agustus 2014, endemic ebola initelah mengantarkan 2240 orang yang diduga terkena ebola dan 1229 kematian di lima Negara : Guinea, Liberia, Nigeria, dan Sierra Leone. Ebola virus digolongkan menjadi 5 spesies: Ebola virus (EBOV) Bundibgyo virus (BDBV), Sudan virus (SUDV), Tai Forest virus (TAFV), dan Reston virus (RESTV). EBOV pertama kali diidentifikasi pada tahu 1976, diberi nama Ebola karena pertama kali muncul di Sungai Ebola.

EBOV menginfeksi sel endotel, mononuklir fagosit dan hepatosit. Setelah menginfeksi, virus menggunakan beberapa mekanisme untuk menghindari sistem imun inangnya. Virus ini dapat menyebabkan kerusakan berat pada jaringan dalam tubuh, seperti pembuluh darah, dan hati, dan dapat menyebabkan kematian. Kontak langsung dengan cairan tubuh penderita menjadi jalur utama dalam transmisi EBOV.

Pada tahun 2014, ZMapp yang merupakan obat eksperimental diuji coba untuk menangani pasien Ebola pada dua tenaga medis yang terkena virus Ebola ketika menangani pasien di Liberia. Keduanya mengaku bahwa mereka merasa lebih kuat setelah mendapat ZMapp, dan dapat keluar rumah sakit pada 21 Agustus 2014.

Nicotiana benthamiana (abc.net.au)

Keunikan dari ZMapp ini adalah salah satu komponen antibodi penyusunnya dapat diproduksi oleh tanaman, secara spesifik yaitu Nicotiana benthamiana. Tanaman ini dapat mengekspresikan protein dengan penanaman dalam ruang dengan kondisi lingkungan terkontrol dan proses ini tergolong cepat serta dapat dilakukan dalam skala besar.

Upaya produksi antibody monoclonal pada tanaman dilakukan pada tahun 1989. Dengan menggunakan rekayasa genetika, penyisipan gen pada sel tanaman dapat menyebabkan tanaman dapat mengekspresikan antibody monoclonal. Telah banyak tanaman transgenik yang memproduksi antibody monoclonal.

Permasalahan rendahnya tingkat ekspresi protein diselesaikan oleh perkembangan sistem ekspresi pada tanaman. Dengan memanfaatkan sifat replikasi dari vector virus seperti magnICON dan Gemini, copy number dari RNA yang mengkodekan antibodi dapat ditransfer dan disusun menjadi replikon pada tanaman dengan jumlah yang tinggi. Ekspresi antibody monoclonal dapat mencapai 0.5 g/ kg berat basah. Proses transformasi hingga pemanenan antibody ini hanya memakan waktu 5-8 hari. Kedua kelebihan ini berpotensi untuk dikembangkan produksi massal. Ditambah lagi proses ini tidak meliatkan integrasi gen pada tanaman sehingga mengeleminasi resiko penyebaran gen rekombinan akibat penyerbukan.

Kemajuan bidang bioteknologi tanaman mengantarkan manusia untuk memproduksi antibody monoclonal pada tanaman secara cepat, hasil yang tinggi, kapasitas skala besar dan biaya relative rendah. Tanaman transgenik yang memproduksi antibody monoclonal ini dapat menjadi agen biodefense untuk merespon secara cepat bioterror berupa wabah penyakit. Hal ini memacu adanya produksi antibody monoclonal pada tanaman.

Zhang YF, Li DP, Jin X, Huang Z. Fighting Ebola with ZMapp: spotlight on plant-made antibody. Sci China Life Sci, 2014, 57: 987–988,
doi: 10.1007/s11427-014-4746-7

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *