[LIVE IN] – Pak Engkos: Warga Desa yang Menerapkan Hasil Penelitian Terbaru Dokter Endoskopis Asal Jepang Sejak Lama

Rumah Pak Engkos

Keadaan di dalam rumah Pak Engkos

Aku bersyukur mengikuti kegiatan Live In HMRH ke Desa Cibeusi pada tanggal 19-21 Desember 2016. Banyak hal yang dapat aku pelajari dari menginap 2 hari 2 malam disana, baik dari segi pertanian, adat istiadat, kesehatan, serta hal-hal penting lainnya. Namun, membahas semuanya hanya akan menyentuh permukaan luar saja. Melalui tulisan ini aku ingin membagi rasa kagumku terhadap satu aspek kesederhanaan warga Cibeusi tapi ternyata secara memiliki dampak positif secara ilmiah terhadap kesehatan, yaitu tentang pola makan sehari-hari.

Gaya hidup modern menjadikan semua serba praktis. Ketimbang memasak makanan sendiri, kebanyakan orang memilih untuk membeli hasil olahan dari para penjual makanan, mulai dari makanan berat di warung tegal (warteg) hingga jus-jus ke tukang jus buah. Ini lah yang menjadi latar belakang penelitian seorang dokter pakar endoskopi dalam bukunya “Revolusi Makanan” (Hiromi Shinya). Ia meneliti pengaruh pola makan pasien terhadap penyakit pada usus (polip, kanker usus, sembelit, dll). Hasilnya, makanan yang diproses (digoreng, dimasak, dll), lemak, daging, susu beserta olahannya, terigu putih (menjadi roti, kue, dll) serta gula yang terlalu banyak, akan membuat usus menjadi kotor. Dan sayangnya ini adalah ciri makanan modern!  Ketika kotoran usus bertumpuk, dampaknya di dalam tubuh akan meluas, misalnya daya tahan, stamina, bahkan kecantikan.

Mahasiswa seperti kita sebagian besar pasti tengah melakukan kesalahan ini. Sehari lebih dari satu kali makan daging, porsi nasi yang berlebihan, sering beli gorengan. Pernahkah kita merasa lelah saat bangun tidur? Itu salah satu ciri kesalahan pola makan kita sehari-hari. Lalu, apa solusinya?

Sore hari pada tanggal 19 Desember 2016, aku bersama kak Ganjar (BE’13 – 11213021) sampai di rumah pak Engkos, ketua RT 007 desa Cibeusi. Kami disambut dengan sangat terbuka. Pak Engkos tinggal bersama istri dan anak perempuan bungsunya. Mereka sangat ramah dan sederhana, itu yang langsung muncul di benakku saat masuk dan bercengkrama bersama mereka. Di meja ruang tamu selalu ada makanan yang dengan murah hati ditawarkan kepada kami. Bukan kue ataupun gorengan, melainkan hasil kebun mereka sendiri seperti pisang, jambu biji (saat itu sedang musim jambu biji, sehingga ibu memiliki banyak sekali jambu biji) serta ubi cilembu yang dikukus. Air minum selalu berasal dari air mentah yang dimasak dan disimpan dalam termos, tidak berasa, tidak berbau, dan tidak berwarna sama sekali. Pak Engkos sekeluarga sempat menawari kami makan malam, tapi kami dengan halus menolak karena memang kami sudah makan sebelum berangkat, lagipula kami melihat Pak Engkos sekeluarga tidak akan makan malam sehingga kami sungkan. Akhirnya sekitar pukul setengah 10 kami dipersilakan tidur.

Esok harinya, pukul setengah enam pagi, bapak sudah selesai bersiap dan meminta izin pergi duluan untuk berangkat mencari rumput. Kami tentu harusnya ikut dengan bapak, tapi bapak kasihan dengan kami. Dia tahu kami biasa sarapan pagi sebelum memulai aktivitas sehingga kami disuruh makan dulu. Akhirnya kami belanja tahu sumedang dan kerupuk agar tidak repot memasak. Ibu menyiapkan nasi dan lalap daun pepaya yang direbus. Kami mulai makan namun ternyata ibu serta anaknya tidak ikut makan bersama kami. Kebiasaan mereka memang makan ketika selesai bekerja mencari rumput untuk kambing, yaitu sekitar pukul 11 atau 12. Kami yang selama ini memiliki informasi pentingnya makan pagi sedikit memaksa ibu untuk makan, tapi tetap tidak bisa. Ibu hanya makan buah-buahan di meja dan minum air putih. Akhirnya kami segera menyelesaikan makan dan berangkat mencari rumput bersama ibu.

Ketika siang menjelang, kami selesai mencari rumput. Teman-teman dari RT lain tiba-tiba berkumpul di rumah kami. Ibu berinisiatif memasak nasi tambahan dan kami segera membeli bahan makanan berlebih untuk dimakan bersama. Kami membeli asin jambal, asin selar, tahu, tempe dan cabe. Baru akhirnya kami merasakan makan bersama bapak dan ibu sekitar jam 11 siang. Sambil makan bapak mulai bercerita, ada pelajaran yang bagus didaptkan tentang perbedaan orang zaman dahulu dan sekarang. Singkatnya, bapak bercerita orang zaman dahulu selalu cukup makan semiskin apapun. Hanya makan nasi dan asin (ikan asin) secukupnya sudah tidak perlu jajan-jajan lagi. “Zaman dulu makanan lebih penting kabarakohanana (keberkahannya)” begitu ujar pak Engkos, membuat aku sedikit merenung karena memang aku merasa makan saat ini lebih menekankan unsur kesenangannya dibanding manfaatnya untuk tubuh. Selanjutnya ketika makan, selalu dengan menu yang sederhana, asin, lalap daun pepaya. Pak Engkos sekeluarga jarang makan daging ayam, apalagi sapi dan kambing. Selain itu bapak jarang makan di luar jam makan, hanya ngemil buah-buahan namun itu jarang sekali.

Pada saat liburan aku berkesempatan membaca buku tersebut. Sang dokter berdasarkan penelitiannya membuat langkah-langkah yang dapat kita lakukan untuk melakukan detoksifikasi (pengeluaran sampah yang menumpuk) pada usus kita. Ternyata, beberapa langkah yang tertulis sudah dilakukan oleh Pak Engkos dan warga Cibeusi lainnya. Misalnya saja langkah-langkah berikut:

  1. Istirahatkan usus, lakukan puasa pagi hingga jam makan siang dengan hanya mengonsumsi air mentah ½ liter (bukan air ledeng), sayuran serta buah buahan.
  2. Perbanyaklah makan buah, sayuran dan ikan karena terdapat enzim, vitamin, serat dan minyak yang dapat membantu proses detoksifikasi
  3. Kurangi makan makanan yang dapat mengotori usus (sudah disebutkan di paragraf 2)
  4. Makanlah dengan teratur dan terjadwal, kurangi makan di sela waktu makan dan jangan makan di atas jam 8 malam.
  5. Hiduplah dengan membersihkan pikiran, berbuat baik, memperbaiki suasana hati serta tidak stress

Masih ada beberapa langkah lagi namun inti dari buku itu adalah demikian. Tanpa disadari pak Engkos sekeluarga telah menerapkan hasil penelitian itu tanpa membaca buku “Revolusi Makanan”.  Tidak hanya dari segi pola makan tapi juga manajemen hati pak Engkos tepat seperti langkah yang tertera di buku. Pak Engkos banyak memberikan nasihat kepada kami tentang menjalani kehidupan dengan sederhana, berbeda dengan kebanyakan orang modern yang seakan-akan hidupnya selalu rush (terburu-buru).

Akhirnya, melalui tulisan ini yang ingin kusampaikan adalah banyak kearifan lokal yang terkikis oleh modernisasi kehidupan di kota. Jika kita tidak cepat menyadari, kebiasaan buruk akibat serba praktisnya kondisi di sekitar dapat merusak kesehatan kita. Memang dampaknya tidak akan terasa dalam waktu dekat, namun secara statistik jumlah penyakit terus bertambah karena pola hidup yang tidak sehat. Oleh karena itu kesempatan untuk bersilaturahmi dan menimba ilmu dari masyarakat desa sangat bermanfaat, salah satunya agar kita dapat bercermin terhadap kearifan lokal untuk memperbaiki kebiasaan yang salah dalam hidup.


Ditulis oleh :

Abdurrahman Adam (11214001)

27 Desember 2016

 

Referensi :

Shinya, Hiromi. (2014). Revolusi Makan. Jakarta : Qanita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *