Bernilai Tinggi dengan Biofortifikasi

Fortifikasi merupakan cara untuk meningkatkan kandungan mikronutrisi esensial seperti vitamin dan mineral dalam makanan. Cara ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas nutrisi dari suplai makanan serta meningkatkan taraf kesehatan publik. Lalu, apa itu biofortifikasi? Biofortifikasi merupakan proses menambahkan dan atau meningkatkan kualitas nutrisi dalam tanaman bahan pangan sebelum tanaman tersebut diolah atau dikonsumsi secara langsung. Tidak seperti fortifikasi konvensional, biofortifikasi dapat membuat makanan yang dikonsumsi “bernilai tinggi” sejak tanaman bahan pangan tersebut ditumbuhkan.

Biofortifikasi sangat menolong untuk memperbaiki kualitas gizi masyarakat yang secara ekonomi dan geografis sulit mendapatkan suplementasi dan membeli makanan komersil terfortifikasi. Negara-negara berkembang seperti Indonesia sangat membutuhkan praktik biofortifikasi. Menurut WHO (2004), Indonesia termasuk ke dalam negara dengan status kekurangan gizi karena sekirar 5 juta dari 18 juta balita Indonesia menderita kurang gizi dan gizi buruk.

Bagaimana biofortifikasi menjawab masalah ini? Biofortifikasi pada dasarnya mengaplikasikan aspek pengetahuan akan sistem metabolisme tumbuhan sebagai agen hayati dan aspek rekayasa untuk memodifikasi sistem metabolisme tersebut. Senyawa-senyawa bermanfaat yang membuat tanaman memiliki nutrisi tinggi kebanyakan merupakan metabolit sekunder. Senyawa ini sebenarnya digunakan tumbuhan untuk mempertahankan diri dari stress akibat kondisi lingkungan yang buruk dan juga hama. Namun, senyawa-senyawa tersebut ternyata memiliki efek menyehatkan jika dikonsumsi manusia. Sejak dulu, masyarakat lokal Indonesia telah memanfaatkan senyawa-senyawa ini untuk obat-obatan tradisional.

“Metabolit sekunder pada tumbuhan ibarat knowledge (ilmu pengetahuan) pada manusia, “ ucap Bapak Robert Manurung dalam salah satu kuliahnya di Program Studi Rekayasa Hayati. Tidak penting jika tanamannya kurus, kalau banyak nutrisi atau metabolit sekundernya dan bermanfaat bagi manusia, tumbuhan tersebut bernilai tinggi. Demikian juga manusia, tidak peduli seperti apa rupa dan bentuknya, jika kaya akan knowledge (ilmu pengetahuan) dan dapat bermanfaat bagi sesama, nilainya bertambah. Analogi ini cukup menarik untuk memberi gambaran tentang metabolit sekunder.

Modifikasi tumbuhan untuk meningkatkan produksi metabolit sekunder sendiri dapat dilakukan dengan beberapa cara. Budidaya persilangan konvensional, modifikasi faktor eksternal atau lingkungan tumbuh dan rekayasa genetika merupakan beberapa yang sedang berkembang saat ini. Salah satu contoh produk biofortifikasi yang telah dikenal di Indonesia adalah golden rice. Beras yang kaya beta karoten yang dapat diolah tubuh menjadi vitamin A ini merupakan hasil rekayasa genetik para ilmuwan yang bekerja di International Rice Research Institute (IRRI), Filipina. Dibalik keuntungan yang didapatkan, tanaman hasil rekayasa genetika masih sulit berkembang terkait ketatnya pemberian izin legal untuk distribusi dan standar keselamatan pangan. Namun, terdapat metode lain yaitu modifikasi faktor eksternal atau kondisi lingkungan tumbuhan yang cukup menjanjikan karena mudah diaplikasikan.

tomat

Buah Tomat (Sumber : healthetimes.com)

Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh cahaya, air, karbon dioksida dan nutrisi tumbuh. Semuanya ini diperlukan dalam proses fotosintesis yakni proses biokonversi energi matahari menjadi senyawa biokimia berenergi tinggi. Proses fotosintensis adalah proses dasar dalam produksi berbagai metabolit dalam tumbuhan. Modifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi proses fotosintesis dapat berpengaruh pada produksi metabolit yang dihasilkan. Sebagai contoh, peneliti dari Universitas Pristina dan Universitas Nis, Serbia bekerja sama dengan Department of Postharvest Science of Fresh Produce Israel berhasil meningkatkan kandungan likopen (termasuk dalam senyawa karotenoid, memiliki efek antioksidan tinggi) pada buah tomat sebesar 38% dengan menumbuhkan tanaman tomat dalam rumah plastik yang terintegrasi dengan teknologi jaring merah (red shade netting). Hal ini berkaitan dengan respons tumbuhan terhadap intensitas cahaya yang diterimanya. Cara ini tentunya dapat menjadi tools yang menarik untuk memproduksi tanaman bernilai tinggi.

Pada akhirnya, berbagai disiplin ilmu diperlukan untuk menciptakan suatu proyek biofortifikasi yang terintegrasi. Penerapan ilmu botani, rekayasa hayati, dan agroekonomi harus bersatu padu untuk mewujudkan mimpi ini. Mimpi tersedianya makanan yang sehat dan murah bagi masyarakat Indonesia. Mimpi meningkatnya kualitas gizi anak-anak Indonesia. Mimpi yang bukan lagi mimpi jika saja manusia berilmu tinggi mau mengembangkan tanaman bernilai tinggi melalui biofortifikasi.


Penulis: Elisa Frederica Siburian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *