BE FAME #8

[Sejenak Mengenal Cibeusi Pintar✨]

Sudah pernah mendengar istilah pengabdian masyarakat atau yang biasa disingkat pengmas? Yap, betul sekali, pengabdian masyarakat adalah butir ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi—pendidikan, penelitian, pengabdian masyarakat. Pasti para pembaca yang budiman pernah dengar dong ya. Terutama kalian kaum mahasiswa calon-calon pemimpin bangsa nih. So pasti akrab banget dengan yang namanya pengmas ini. Apalagi di tiap himpunan, pengmas seringkali menjadi salah satu agenda wajib. Ya kan?
Nah, biar lebih ngeuh lagi nih, kalian pasti tau dong kalo pengmas ini sebenarnya punya banyak ragam perwujudan.

Bukan cuma bagi-bagi sembako aja nih, pengmas juga bisa berwujud peningkatan sanitasi, pengadaan air bersih, pengajaran bagi anak-anak, ataupun pelatihan keterampilan bagi masyarakat setempat melalui alih teknologi. Wah, banyak macamnya ya, hehe. HImpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati Insitut Teknologi Bandung (HMRH ITB) pun tak mau kalah dalam bidang per-pengmas-an ini. Bahkan dua ragam pengmas yang disebut terakhir sudah menjadi agenda rutin Departemen Sosial Kemasyarakatan (SMK) HMRH ITB.
Satu agenda—pengajaran bagi anak-anak—diwujudkan secara riil dengan program kerja atau proker ‘Cibeusi Pintar’. Nama proker ini disusun dari dua kata: Cibeusi dan Pintar. Kata pertama diambil dari nama tempat pengmas diadakan, yakni di Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Sedangkan kata kedua menggambarkan harapan diadakannya proker ini, yakni agar masyarakat, terutama, anak-anak di Desa Cibeusi, lebih terbuka wawasannya alias lebih ‘pintar’.

Agenda yang kedua—pelatihan keterampilan bagi masyarakat setempat melalui alih teknologi—diwujudkan dengan adanya pelatihan pengolahan daging buah kopi alias cascara untuk dijadikan minuman seduh. Cascara jadi minuman seduh, menarik kan ya, hoho? Mungkin di artikel selanjutnya, pengolahan cascara menjadi minuman seduh akan menjadi topik utama.
Di atas, proker Cibeusi Pintar telah sedikit dijelaskan. Melanjutkan penjelasan tersebut, proker ini dilaksanakan setiap bulan di hari Minggu pertama, di satu mushola di Desa Cibeusi. Proker ini dilaksanakan oleh Divisi Sosial Masyarakat (Sosmas) HMRH ITB.

Meski merupakan proker Divisi Sosmas, bukan hanya anggota Divisi Sosmas saja yang boleh ikut ke Cibeusi, massa HMRH yang lain juga boleh turut berpartisipasi. Telah disinggung pula Departemen SMK HMRH ITB. Untuk informasi saja, Departemen SMK ini adalah satu dari sekian banyak departemen yang berada di bawah naungan HMRH ITB. Departemen ini sendiri membawahi dua divisi: Divisi Sosmas, seperti yang telah disebutkan, dan Divisi Keprofesian. Sedikit menyinggung lagi nih, pengolahan cascara tadi tuh masuk proker Divisi Keprofesian, hoho. Nah, desa Cibeusi sendiri berstatus desa binaan HMRH ITB.

Penulis pribadi adalah anggota Divisi Sosmas. Penulis memilih divisi ini karena sudah menjadi panggilan jiwa. Eh, maksudnya, penulis sreg aja dengan proker divisi ini. Motivasi penulis sederhana saja: “masyarakat mampu menyadarkan kita nilai-nilai sederhana dalam hidup yang seringkali tidak kita sadari”. Eh, ini malah curhat ya, hehe. Ya, begitulah.
Ketika pertama kali mengikuti program Cibeusi Pintar pada 9 September 2017, penulis berperan sebagai pengajar anak-anak Cibeusi. Pengajar katanya, tapi pada kenyataannya, justru penulis lah yang lebih banyak belajar. Mengapa demikian? Karena ternyata mengajar anak-anak memiliki tantangan tersendiri. Entah terkait materi apa yang akan disampaikan pada hari itu ataupun kiat agar para anak ini tidak cepat bosan. Nah, terkhusus anak-anak CIbeusi, tantangan uniknya adalah bagaimana agar para anak ini tidak malu atau sungkan dengan para pengajar. Sebab, karakteristik anak-anak Cibeusi memang agak pemalu. Meski pun pada dasarnya mereka semangat dalam belajar. Pesan moral yang penulis dapatkan adalah pahami karakteristik anak-anak secara lebih mendalam. Selain terkait anak-anak Cibeusi, penulis juga banyak belajar dari rekan-rekan pengajar, yang rela meluangkan waktu demi bisa mengajar di Cibeusi.

Rasa kagum penulis kepada tiap pengajar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Satu pesan moral yang penulis tangkap dari sini, bahwa kebaikan bisa diusahakan dengan membentuk lingkungan yang baik. Sebuah kebahagiaan tersendiri menjadi bagian dari kegiatan ini.
Niat berbagi kadang muncul karena kita merasa lebih beruntung, padahal seringkali, dengan berbagi, keberuntungan kita justru semakin bertambah. Begitupun juga dengan menjadi pengajar di Cibeusi Pintar ini. Niatnya berbagi kebahagiaan, tapi justru kebahagiaan penulislah yang justru bertambah.

Barangkali kutipan dari Booker T. Washington berikut tepat untuk menutup artikel ini
“Those who are happiest are those who do the most to others”

Content by M Amin Widyatama
Poster by Kelvin Alfianza
#BESmartWithBEFAME

Referensi
http://itjen.ristekdikti.go.id/wp-content/uploads/2017/02/TRIDHARMA-PT-ITJEN-1.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *