Memperkenalkan Konsep Biorefinery Biji Kemiri Sunan pada Warga

IMG_3764

Profesor Heeres, Dr. Robert Manurung, dan Dr. Yusuf Abduh mensosialisasikan kepada warga

SUMEDANG – Sejumlah dosen dan mahasiswa ITB melakukan sosialisasi pemanfaatan biji kemiri sunan dengan konsep biorefinery ke Desa Pajagan, Sumedang (20/7). Acara ini diinisiasi oleh dosen Kelompok Keilmuan (KK) Agroteknologi dan Teknologi Bioproduk Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) dan dibantu oleh Himpunan Mahasiswa Rekayasa Hayati sebagai bentuk rasa tanggung jawab pada masyarakat. Selain dihadiri masyarakat sekitar, Perum Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dan pemerintah Desa Pajagan juga turut dilibatkan dalam acara ini. Keterlibatan berbagai pihak ini diharapkan dapat membantu masyarakat desa untuk dapat memanfaatkan seluruh komponen biji kemiri sunan sebagai produk bernilai ekonomi tinggi. 

Kemiri sunan merupakan tanaman beracun sehingga tidak dapat dikonsumsi, sedangkan warga menanam kemiri sunan pada lahan seluas 5 Ha. Kemiri sunan yang terkenal akan kandungan minyaknya tidak dapat serta merta digunakan sebagai bahan bakar, harus melalui proses transesterifikasi. Alat transesterifikasi ciptaan Profesor Erik Heeres, dosen Universitas Groningen, Belanda diperkenalkan sebagai salah satu solusi masalah tersebut.

Selain minyaknya, ketua penyelenggara acara, Muhammad Yusuf Abduh, juga menyebutkan bahwa cangkang biji dan ampas hasil ekstraksi minyak biji kemiri sunan dapat diolah menjadi medium tumbuh biomassa black soldier fly larvae (BSFL). “Biomassa ini merupakan sumber pakan yang baik bagi ayam dan ikan, dan menurut hasil penelitian, pakan ini tidak menimbulkan efek samping,” lanjut Yusuf. Fathiyah, salah satu mahasiswa Rekayasa Hayati ITB mengungkapkan, “Potensinya (kemiri sunan, red) bagus sekali, kalau sampai ini terwujud bisa meningkatkan ekonomi warga sekitar.”

Robert Manurung, menenkankan bahwa proses produksi pemanfaatan biji kemiri sunan ini tak akan berjalan jika para petani tidak memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja demi meningkatkan kesejahteraan pedesaan mereka sendiri. Perum Perhutani, LDMH, dan pemerintah desa diharapkan dapat membantu mendorong masyarakat untuk memanfaatkan potensi sumber daya alamnya lebih optimal lagi. Selain itu, diharapkan warga mendapatkan bantuan pelatihan produksi dan pemasaran dari Perum Perhutani, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), dan pemerintah Desa Pajagan. Salah satu alasan juga mengapa disosialisasikan ke Perhutani, karena merekalah yang bisa dan lebih mengerti soal penyediaan alat, alur produksi, dan lain-lain. (AL)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *